HEADLINE NEWS

Dukungan DPR terhadap Protes Kemenlu atas Penolakan Presiden Brasil Dilma Rousseff

dpr_buildingDPR mendukung sikap pemerintah Indonesia yang telah memanggil pulang dubesnya di Brasil sebagai protes atas penolakan negara itu terhadap surat kepercayaan dubes Indonesia.

Mereka juga menyatakan dukungan atas sikap Kementrian luar negeri yang telah memanggil dubes Brasil untuk Indonesia terkait kasus ini.

“Sikap pemerintah sudah benar, oleh karenanya patut didukung,” kata Tantowi Yahya, Wakil Ketua Komisi I DPR dalam keterangan pers , Sabtu (21/02) siang.

Penolakan Brasil terhadap surat kepercayaan dubes Indonesia, menurut Tantowi, dapat dipandang sebagai “pelecehan diplomatik”.

“Pemberian credentials adalah hak negara akreditasi. Tapi pembatalan penyerahan kepada dubes kita disaat yang bersangkutan sudah berada di Istana Kepresidenan bersama dengan dubes-dubes lain adalah pelecehan diplomatik,” katanya.

Pada Jumat (20/02) malam, Kemenlu Indonesia memprotes sikap Brasil yang menunda penyerahan surat kepercayaan duta besar Indonesia.

“Suatu tindakan yang tidak dapat diterima oleh Indonesia,” demikian keterangan Kemenlu, Jumat (20/02) malam.

Pesan diplomatik

Pernyataan ini dikeluarkan beberapa jam setelah Presiden Brasil, Dilma Rousseff menolak surat kepercayaan duta besar Indonesia.

“Yang kami lakukan adalah sedikit memperlambat penerimaan surat kepercayaan, tidak lebih dari itu,” kata Dilma Rousseff kepada wartawan di Brasil.

Duta besar Indonesia untuk Brasil, Toto Riyanto sebelumnya telah hadir pada acara di hari Jumat (20 Februari) di Istana Presiden Brasil.

Dia hadir bersama-sama dengan diplomat yang baru ditunjuk dari Venezuela, El Salvador, Panama, Senegal dan Yunani, tetapi Toto Riyanto tidak ikut serta dalam upacara.

Akibat tindakan ini, Dubes Toto Riyanto tidak akan mewakili Indonesia dalam acara resmi di Brasil.

Sejumlah kalangan menyebut tindakan Brasil ini dipandang mengirimkan pesan diplomatik yang tegas terhadap Indonesia.

Brasil sebelumnya meminta agar Indonesia tidak menghukum mati warga negaranya yang terbukti melakukan perdagangan narkoba, tetapi Indonesia telah menolaknya.

Nasib kerjasama dengan Brasil

Lebih lanjut Tantowi Yahya mengatakan, tindakan pemerintah Brasil itu akan memperburuk hubungan bilateral kedua negara dalam berbagai bidang.

Menurutnya, di bidang pertahanan, Indonesia dan Brasil sudah menjalin kerjasama yang baik.

“Tahun anggaran 2009-2014, Kita memesan pesawat Super Tucano untuk mengawasi garis pantai kita. Kita juga memesan Multi Launcher Rocket System (MLRS),” ungkapnya.

Itulah sebabnya, lanjutnya, DPR akan melakukan kontak dengan Kementrian Pertahanan untuk mengevaluasi kerjasama ini, apabila Brasil tidak mengubah sikap.

Menyinggung kerjasama di bidang perdagangan, menurutnya, Brasil -yang merupakan salah satu penghasil daging terbesar di dunia- saat ini sedang berusaha memasukkan dagingnya ke Indonesia.

“Mereka tahu besarnya kebutuhan kita akan daging. Dari dua bidang itu saja, saya menilai Brasil dalam posisi yang lebih membutuhkan kita.”

“Kita sedang dalam posisi darurat narkoba, oleh karenanya pemerintah tdk boleh takut apalagi tunduk oleh tekanan-tekanan seperti yangg sedang ditunjukkan oleh Brasil dan Australia saat ini,” kata Tantowi Yahya.

Warga Brasil negara Marco Archer dihukum mati pada tanggal 17 Januari setelah dihukum bersalah melakukan perdagangan narkoba.

Duta besar Brasil di Indonesia telah ditarik oleh Pemerintah Brasil sebagai protesterhadap hukuman mati tersebut.

Warga Brasil lainnya, Rodrigo Gularte, dijadwalkan dieksekusi di Indonesia atas dasar pelanggaran hukum yang sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: