HEADLINE NEWS

24/7=Heaven : I’ll Protect You ( Chapter – 13 )

Title : 24/7=Heaven : I’ll Protect You!
Genre : School Life, Friendship
Rating : PG 13+
Author : Alda Nugraha
Length : Chaptered || #Chapter13
Cast :
*Kang Eun Mi (You)
*Jeon Jung Kook (Member of 방탄소년단)
*Kim Taehyung (Member of 방탄소년단)
*All Member 방탄소년단
*Kim Soo Yi (Fiction)

  Kim Nam Joon pun langsung melenyapkan kepalan tangannya itu dan sedikit menjauh dari Jung Kook.

  “Nam Joon?!”

  Ucap Jimin heran.

  “Lepaskan mereka.”
“Apa?”
“Aku bilang lepaskan mereka!”

  Teriak Nam Joon seketika tanganku pun di lepas oleh Seok Jin Sunbae, Aku pun segera berlari ke arah Jung Kook.

  “Jung Kook? kau tidak apa?”

  Tanyaku sangat cemas seraya mengelap pipinya yang basah oleh air kotor tadi.

  “Emm.. aku tidak apa-apa, bagaimana denganmu?”
“Sangat merasa baik karenamu.”

  Jawabku tersenyum.

  Semua murid yang berkerumun sudah pergi meninggalkan Kang Eun Mi juga Jung Kook terkecuali Kim Taehyung, Starla juga si Murid Pindahan Lee Hye Ra.
Perlahan Kim Taehyung pun melangkah ke arah Eun Mi dan juga Jung Kook, namun langkahnya langsung terhenti dan ia pun segera berjalan mengejar para Sunbae-nya yang telah meninggalkan lapangan.

  “Hey, kalian! sampai kapan akan terus mengumbar kemesraan begitu? cepat pulanglah bersamaku, sopir pribadiku sudah menunggu dari tadi! ayo cepat aku akan antar kalian ke rumah masing-masing!”

  Teriak Starla menyadarkanku, aku pun langsung terkekeh dan berjalan ke arah Starla dan langkahku sedikit terhenti setelah melihat Lee Hye Ra masih berada disini menatap Jung Kook dengan sangat khawatir.

  “Kau tidak apa-apa?”

  Tanya Hye Ra setelah ia menghampiri Jung Kook dan langsung memberikan jaket miliknya ke punggung Jung Kook.

  “Ah tidak Hye Ra, Tidak usah seperti ini.”
“Apanya yang tidak?! kau begitu terlihat menggigil!”

  Jawab Hye Ra mengomeli Jung Kook.

  Starla yang menyadari akan perasaan cemburu dari Eun Mi pun langsung menarik Jung Kook dari samping Hye Ra.

  “Cepat pulang! kita antarkan Eun Mi sekarang dan ini.. Hye Ra? ambil jaketmu kembali! di mobilku masih banyak jaket yang lebih besar untuk menghangatkan mereka berdua, mewakili mereka berdua aku ucapkan terima kasih banyak!”

  Ucap Starla langsung menarik tanganku juga Jung Kook untuk segera pergi meninggalkan Hye Ra di lapangan itu.

  “Starla? apa yang kau lakukan!”

  Bisikku sedikit kesal.

  “Bagaimana mungkin kau bisa menyembunyikan api cemburumu itu sementara asap begitu mengepul di ubun-ubun mu haha”
“Issh kau!”

  Balasku.

  Lalu Aku, Jung Kook juga Starla pun telah sampai di depan sekolah, segera kami pun masuk ke dalam mobil Starla.

  “Paman Jalan, tapi kita antarkan dulu kedua temanku ini ya!”
“Baik Nona.”

  Balas Sopir itu.

  “Kang Eun Mi? katakan, dimana rumahmu? mmm kemana arahnya?”
“Ah? ke rumahku? mmm bagaimana ya?”
“Bagaimana apanya?!”
“Sejujurnya aku tidak berani pulang dalam keadaan berantakan seperti ini, aku sangat takut kalau nanti ayah akan memarahiku, aku takut dia berfikir aku berkelahi ataupun semacamnya.”
“Hah.. memang kenyataannya begitu kan?!”
“Ya maka dari itu sebaiknya aku tidak pulang hari ini, turunkan saja aku disini dan aku akan kembali ke asrama saja.”

  Ucapku sedikit gugup.

  “Mmm Eun Mi? bagaimana jika kau menginap di rumahku saja? maksudku, ini lebih baik daripada kau kembali ke asrama, mengingat Taehyung juga berada di asrama.”

  Tambah Jung Kook sedikit membuatku tersenyum.

  “Itu ide yang bagus, lebih baik kau pulang bersama Jung Kook dulu saja, oke?”

  Timpah Starla, aku pun hanya mampu menganggukan kepalaku padahal dalam hati saat ini aku tengah berteriak-teriak kegirangan haha.

  “Ah Starla, benarkah kau merekam semua kejadian tadi?”

  Tanyaku sangat penasaran.

  “Mmm Tentu saja.”
“Boleh aku melihatnya?”

  Pintaku seraya mengulurkan tangan, Starla pun segera mengambil ponselnya dan memberikannya padaku, aku pun langsung melihat rekaman itu bersama Jung Kook.

  “Jika dilihat seperti ini rasanya sangat mengerikan, Grup BANGTAN sangat kejam.”

  Ucapku menatap Jung Kook, sedangkan Starla hanya bercermin dan menyisir rambutnya, Jung Kook pun tersenyum dan mengangguk padaku seolah mengerti dan setuju dengan apa yang akan ku lakukan pada Video ini.
Aku pun tentu menghapus Video ini dengan cepat.

  “Ini, Terima Kasih.”

  Ucapku seraya mengembalikan ponsel Starla.

  “Dengan Video itu kita akan sangat mudah untuk mendepak mereka dari sekolah, kalian tidak usah khawatir, aku akan melaporkan pada paman ku yang bekerja sebagai hakim, ku rasa pamanku akan jauh lebih bijak dalam menangani kasus kalian ini.”

  Balasnya seraya merias diri tanpa perdulikan ponsel miliknya sama sekali.
Aku pun hanya mengalihkan pandanganku ke depan.

[Sesampainya Di Rumah Jung Kook | 06.21pm]

  “Ini rumahmu?”

  Tanya Starla sangat terkejut, begitupun juga aku yang memang sedikit merasa iba dengan kondisi rumah Jung Kook yang jauh lebih buruk dari yang aku fikirkan, bahkan ku rasa dengan kamarku saja lebih besar kamar milikku.

  “Iya, Ayo silakan masuk.”

  Ajak Jung Kook tersenyum sementara Eun Mi dan Starla hanya memandangi rumah Jung Kook yang terlihat seperti gubuk namun sangat teramat bersih kelihatannya.

  “Ayo kita ke dalam.”
“Ah.. aku tidak bisa lama-lama, aku harus segera kembali pulang mmm Eun Mi? apa nanti pagi aku harus menjemputmu kesini?”
“Tidak usah, tapi sungguh kau tidak akan ikut masuk ke dalam?”
“Sangat ingin tapi…”
“Ya Sudah, lain kali saja.”

  Balasku tersenyum.

  “Jung Kook? tidak apa kan jika aku langsung pulang?”
“Ah tidak apa-apa, hati-hati dijalan ya?”
“Baik, Terima Kasih dan sampai jumpa.”

  Ujar Starla segera kembali masuk ke dalam mobilnya.
Aku dan Jung Kook pun segera berjalan ke dalam rumahnya.

  “Apa kau pikir dia tidak suka dengan keadaan rumahku?”
“Apa kau berpikir Starla kita begitu?”
“Ah tentu tidak begitu hehe.”

  Balas Jung Kook seraya menuntun tanganku.

  Tok… Tok… Tok…

  “Ibu.. aku pulang!”

  Ucap Jung Kook dengan terus mengetuk pintu lalu tak lama pintu itu terbuka dengan suara decitan.

  “Ah.. Selamat datang anakku, Oh.. siapa temanmu yang cantik itu? dan ah ya tuhan ada apa dengan kalian? kenapa sangat basah kuyup dan kotor begini hah?!”
“Mmm.. Selamat sore bibi, mmm ini semua…”
“Ibu, lebih baik persilakan kami untuk masuk dulu, nanti aku akan ceritakan semuanya.”

  Jelas Jung Kook langsung menarik tanganku ke dalam rumahnya.

  “Ah Tentu… tentu.. cepat masuk dan bersihkan badan kalian dulu.”

  Ucap Ny.Jeon segera menutup pintu rumahnya kembali.

  “Lebih baik kau mandi terlebih dahulu sementara aku akan mencarikan baju yang bagus untuk kau kenakan, mmm kamar mandinya ada di sebelah kanan.”

  Ucap Jung Kook langsung meninggalkanku, aku pun tersenyum dan perlahan berjalan ke arah kamar mandi yang agak gelap ini, atap nya kelihatan banyak lubangnya, sedikit khawatir aku hanya menatap keadaan kamar mandi yang sungguh berbeda dengan kamar mandi di kamarku.
Toilet jongkok dengan air yang mengalir dari kran yang sudah berkarat dan tua namun satu hal yang aku sukai dari rumah yang jauh dari kata mewah ini yaitu Disini sangatlah bersih.

  “Kamar mandinya menjijikan ya?”

  Ujar Bibi sangat mengejutkanku yang tiba-tiba menyentuh pundakku dari belakang.

  “Ah bibi.. tid.. tidak begitu, rumah bibi jauh lebih nyaman dari rumahku.”
“Ayo silakan bersihkan badanmu, disana ada sabun dan ini handuknya, ini handuk yang baru, belum pernah di pakai sama sekali, silakan mandi dengan santai ya? bibi akan siapkan makan malam untuk kalian.”

  Ujar Bibi dengan memberikan handuk yang masih dibungkus kantung plastik ini.

  “Maaf telah merepotkan.”

  Balasku dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Perlahan aku menutup pintu kamar mandi ini, seketika aku mengingat kebiasaanku dirumah, jika cuacanya sedang dingin seperti ini aku pasti akan berteriak-teriak pada Bibi pembantu dirumah untuk memanaskan air untuk mandiku, berbeda dengan disini, tidak mungkin ada air hangat di kamar mandi ini.

  “Haruskah aku mandi? ihhh dingin sekaliiiii…”

  Ucapku menggigil seraya menyentuh air bersih di dalam ember berwarna hitam dengan ukuran besar yang terus terisi dari kran berkarat.
Perlahan aku masukan jari kelingking ku pada ember ini dan sungguh membuat seluruh tubuhku beku seketika saat ku rasakan dinginnya air disini.

  Sementara itu di dapur yang tak jauh dari kamar mandi terlihat Jeon Jung Kook dan Nyonya Jeon sedang memotong-motong sayuran dengan terus tertawa mendengar teriakan Eun Mi disana.

  “Wuuuhhh Dingin… wuaaahhhhhh… bbrrrrr…”

  Teriak Eun Mi dengan suara cipratan air yang heboh di dalam sana.

  “Ku rasa teman wanitamu itu orang yang sangat kaya ya? pasti dia tidak biasa mandi dengan air dingin jam segini.”

  Ucap Nyonya Jeon sambil memotong-motong wortel seketika Jung Kook terdiam berangsur tersenyum.

  Lalu mungkin memakan waktu 30 menit lebih kurang akhirnya Eun Mi keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di tubuhnya.

  “Heh… bbbbrr… ssshhh hah…”
“Uh kau sudah selesai? ayo ikut bibi ke kamar, kebetulan Jung Kook memiliki baju yang agak kecil untuk kau pakai.”

  Ucap Bibi segera memapahku menuju sebuah kamar yang benar-benar kecil di depan sana, aku pun menatap Jung Kook yang terus menunduk dan menahan tawanya segera aku pun mencubit pantatnya saat melewatinya.

  “Aaw.. hehe..”

  Tawa Jung Kook terdengar.

[Kamar Jeon Jung Kook]

  “Ini adalah kamar Jung Kook, nah tadi Jung Kook sudah memisahkan bajunya yang lumayan agak kecil, cepat pakai bajunya dan segera makan bersama kami setelah selesai ya?”
“Ah, benar-benar terima kasih ya bibi maaf sudah merepotkan.”
“Tentu tidak, cepat pakai bajumu ya?”

  Balas Bibi segera meninggalkanku sendirian di kamar Jung Kook, aku pun segera memakai baju Jung Kook ini, agak longgar, sembari memakai baju aku melihay ke sekeliling kamar ini yang dipenuhi piagam juga piala.

  “Dia memang anak yang pintar.”

  Ucapku pelan.

  Lalu aku pun telah selesai berpakaian, aku keluar dari kamar dan sudah mencium bau makanan yang sangat lezat.

  “O.. sudah selesai? kemarilah duduk nak.”

  Ajak Bibi sangat ramah, aku pun duduk di lantai beralaskan bantal yang sudah menipis.

  “Ayo makanlah seadanya ya?”
“Mmm Terima Kasih banyak bi.”

  Jawabku, lalu Jung Kook pun menunduk dan terus tersenyum.

  “Makanlah yang banyak!”

  Ucapku seraya memberikan lauk yang sangat banyak pada mangkuk milik Jung Kook.

  “Hey, ini juga sudah banyak.”

  Ujarnya menatapku.

  “Ayo cepat makanlah!”

  Balas Bibi pada Jung Kook.

  “Mari makaaannn!”

  Ucapku bersemangat.

  “Mmm.. Ibu sangat suka pada temanmu ini, Siapa tadi nama mu, cantik?”
“Ah, Kang Eun Mi.”

  Balasku tersenyum.

  “Kalian sangat dekat ya, apa kalian berpacaran?”
“Uhukkkk.. Uhukk..”

  Jung Kook pun terbatuk-batuk saat mendengar ucapan Bibi, aku pun hanya tersenyum senang seraya memakan makananku.

  Lalu…

  Akhirnya kami telah menghabiskan semua makanan lezat ini.

  “Uhhhh kenyaaaang…”

  Ucapku lalu Jung Kook segera membawa semua bekas makan kami untuk segera ia cuci.

  “Terima Kasih banyak Bibi, masakannya sangaaaaat lezat!”

  Ucapku dengan perut yang kenyang.

  “Tidak masalah hehe.”
“Oh iya Bi, mmmm apa Jung Kook sebelumnya pernah membawa teman wanitanya juga kemari?”
“Teman wanita? Hah.. rasanya sangat bersyukur melihat Eun Mi bersama Jung Kook kemari, Jung Kook itu tidak pernah mempunyai teman dekat semenjak ia duduk di bangku SMP.”
“Benarkah?”
“Iya, makanya jangankan wanita, pria aja belum pernah ada yang ia bawa kemari.”
“Jadi aku adalah satu-satunya wanita yang ia bawa ke rumah ini? sungguh? aaaaaaa senangnyaaaa..”
“Mungkin Jung Kook menyukai Eun Mi ya..”
“Apa?!!! Ah Bibi.. tidak seperti itu hahaha, kami berdua hanya teman dekat yang sama-sama kutu buku yang keren!”

  Balasku dengan pipiku yang sangat terasa panas.

  “Ah iya bi, jika boleh tahu, tipikal perempuan seperti apa yang sangat disukai Jung Kook bi?”

  Tanyaku berbisik, lalu Bibi pun tersenyum seraya mencubit kedua pipiku.

  “Ahhh Eun Mi tertarik pada Jung Kook ya?”
“Ssstt..  ihhh Bibi!”
“Hahaha, ah iya iya, bibi mengerti, mmm mengenai hal itu mungkin Jung Kook lebih menyukai wanita yang pintar.”
“Pintar?”

  Jawabku sangat sembringah.

  “Cantik..”
“Cantik?!”
“Iya, seperti Eun Mi yang sangaaat cantik.”

  Balas Bibi mencubit kembali kedua pipiku dengan senyuman yang menenangkan.

  “Ahhh bibi… lalu?”
“Lalu…. pendiam.”

  Tambah Bibi lagi, Ngeeeekk.. seketika senyuman dan bunga-bunga yang berada di dalam hatiku kini langsung layu menghitam.

  “Pep.. pendiam?”

  Jawabku sedih.

  “Ah.. at.. atau mungkin salah ya? mmm mungkin salah!”

  Balas Ibu Jung Kook terdengar nerasa bersalah pada Eun Mi yang murung.
Lalu Jung Kook pun datang dan mengelap meja bekas makan malam mereka.

  “Cepat tidurlah Eun Mi, besok kita harus kembali ke sekolah bukan? Ayo..”

  Ajak Jung Kook, Eun Mi pun menatap Jung Kook dengan dahi mengkerut dan bibir yang cemberut.

  “Eun Mi? apa perutmu sakit?”
“Tidak.. tapi.. hatiku..”
“Ah?”
“Ah?? ah.. tid.. tidak tidak.. aku pergi tidur sekarang, Bibi.. aku ke kamar dulu ya?! Selamat malam.”

  Ucapku langsung berpamitan dengan gugup dan pergi masuk ke dalam kamar Jung Kook.

Kang Eun Mi pun bergegas masuk ke kamar Jung Kook dengan salah tingkah sementara Ny.Jeon hanya terkekeh melihatnya.

  “Sudah ibu bilang, dia menyukaimu.”
“Ibu!”
“Apa hah?!”

  Jawab Ny.Jeon segera berdiri dan meninggalkan Jung Kook sendirian, Jung Kook pun tersenyum melihat ke arah pintu kamarnya.

  Lalu…
Waktu telah menunjukan pukul 11 lewat 23 Malam, Jung Kook pun perlahan masuk ke dalam kamarnya seraya membawakan selimut tebal dan bersih, ia menatap ke arah Eun Mi yang tertidur memunggunginya saat ini, perlahan Jung Kook menambahkan selimut lagi pada tubuh Eun Mi dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya, lalu Jung Kook pun segera duduk di bawah dan bersandar pada tempat tidurnya sembari membawa buku pelajarannya dengan pintu kamarnya yang dibiarkan terbuka lebar.

  Aku yang sedari tadi terjaga ini merasakan Jung Kook tidak pergi, aku merasa di duduk di lantai dengan suara kertas yang saling bergesekan. Apa dia tidak tidur? batinku penasaran, lalu aku pun membalikan tubuhku untuk menyamping ke arah kanan ternyata benar, terlihat jelas Jung Kook sedang membelakangiku denhan terduduk menyandari di tempat tidur ini sembari mebaca buku pelajarannya, aku pun terus menatapnya dengan perasaan yang sangat senang.

  Srekk… srekkk.. seketika Jung Kook langsung menoleh ke arahku dan wajahnya tentu nyaris menabrak wajahku, aku pun terkejut dan langsung membulatkan mataku saat hidungnya hampir menyentuh hidungku.

  “Hey!!!”

  Bentakku sedikit kasar tanpa merubah posisiku, ia pun tersenyum dan agak menjauh.

  “Kenapa tidak tidur?”

  Tanyanya dengan pelan dan terlihat malu-malu.

  “Kau juga tidak tidur tapi.. kenapa tiba-tiba menoleh ke arahku begitu hah?! mengagetkan saja.”
“Maaf.. karna nafas Eun Mi begitu merinding berhembus di punukku.”
“Ap.. apa? tid… tidak kok! ah kau berbohong, aku kan tidak sedekat itu denganmu!”

  Ucapku lalu ku sadari ternyata aku terbaring di tepi kasur dan bantal yang berada di belakang, segera aku mundur dan kembali memunggunginya.
Ajaib, benar-benar ajaib, tanpa ku sadari aku telah mendekati punuk Jung Kook secara perlahan.

  “Tuhaaaannnn ini memalukaaannn!!”

  Batinku dengan menggigit bibir bawahku dan memejamkan mata rapat-rapat, lalu seketika aku membuka mataku dan terdiam saat kepala ini merasakan belaian yang sangat lembut dan membuatku sangaaaat nyaman.
Aku pun menoleh sedikit kebelakang.

  “Jung Kook…”

  Ucapku setelah melihat dirinya yang masih dibawah dan terlutut menatapku dengan tangannya yang terus membelai lembut kepala ini.

  “Eun Mi.. Eun Mi pasti sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat. makanya tidurnya tidak tenang jadi aku mengikuti cara ibuku, dia selalu mengusap-usap kepalaku dengan perlahan saat suasana hatiku tengah bimbang, takut, khawatir, cemas dan semuanya yang membuatku tidak nyaman kembali menjadi sangat nyaman dan menenangkan.”
“Kau bisa tahu ya?”

  Balasku dan kembali merubah posisiku menghadapnya, Jung Kook pun terus mengelus kepalaku dengan lembut.

  “memangnya apa yang Eun Mi pikirkan?”
“Hah… itu.. itu soal pertukaran pelajar itu, sudah bukan menjadi rahasia umum kan jika aku lah murid yang mereka pilih untuk pergi ke Indonesia?”
“Benarkah? bukan kah itu bagus? bukan kah itu juga keinginan Eun Mi dan tujuan Eun Mi saat pindah sekolah?”
“Apa menurutmu itu bagus?”

  Tanyaku sedih, Jung Kook pun menghentikan belaiannya dan menatapku dengan senyuman.

  “Tentu saja, cita-cita Eun Mi segera terwujud.”
“Tapi entahlah kenapa tiba-tiba hatiku begitu menentang untuk ini, tiba-tiba aku begitu tidak menginginkan hal ini.”
“Kenapa begitu?”
“Mmm.. mungkin aku tidak ingin meninggalkanmu.”
“Jadi kau khawatir padaku karena BANGTAN Sunbae?”
“Sepertinya memang itu alasannya.”
“Kang Eun Mi… pergilah, jangan pernah khawatirkan aku, aku berjanji akan baik-baik saja dan akan melawan mereka meskipun rasanya tidak mungkin.”

  Ucapnya terkekeh dan menundukan kepala, aku malah semakin merasa dia sedih entah karena apa aku tak tahu.

  “Tinggal beberapa hari lagi aku harus segera memberi keputusan, Aaaahh… sangat membingungkaaannn.”

  Ucapku seraya merebahkan tubuhku dengan merentangkan kedua tanganku, Jung Kook pun terlihat hanya diam saja dan kembali membaca bukunya.

  “Cepat tidur Jung Kook!”

  Perintahku, Jung Kook pun mengangguk tersenyum ke arahku.

  Jam pun bergulir dengan cepat, Kang Eun Mi terlihat begitu lelap dengan tidurnya yang nyaman.

  “Mmm…”

  Lenguhku terbangun dan langsung membuka perlahan mataku menatap jam dinding tepat di depanku, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 3 pagi, aku pun kembali memposisikan tidurku menyamping ke arah kanan seketika aku sedikit terkejut saat melihat Jung Kook tengah duduk di atas tempat tidur ini, perlahan aku menatap wajahnya, hmmm sungguh pemandangan yang sangat indah ku lihat, kini si pendiam Jung Kook tengah duduk tertidur di sampingku, seolah tak mampu ku kendalikan tangan kiriku begitu nakal dan usil karena berulang kali mencolek-colek pipinya yang menggemaskan.

  “Emm..”

  Gumamnya sedikit terbangun karena colekan yang ku buat di pipinya, seketika aku langsung diam tanpa melepas tatapan ini dari wajahnya yang sangat tampan, aku pun langsung memeluk kedua kaki nya itu, mungkin lebih tepatnya paha dirinya yang berada di sampingku, aku kembali memejamkan mataku dengan perasaan yang sangat lega dan bahagia.

  Jung Kook pun membalas pelukan yang ia rasakan dengan genggaman pada tangan Eun Mi yang kini tengah memeluk kedua pahanya itu.

[Pukul 05.12am]

  “Hoaaaamm…”

  Aku menguap menandakan sudah kenyang sudah akan tidurku, perlahan aku membuka mataku dan posisi tidurku masih seperti ini, menyamping dengan memeluk…

  “Bantal?!!”

  Ucapku terkejut dan segera bangkit dari tempat tidurku.

  “Dimana Jung Kook? apa semalam aku hanya bermimpi ya?”

  Batinku seraya berjalan dengan mata yang masih terasa berat lalu aku mencium sesuatu bau yang sangat lezat.

  “Selamat pagi…”

  Sambut bibi pagi ini setelah melihatku keluar dari kamar Jung Kook, ia terlihat meletakan sepanci sup yang sangat terlihat enak, ah ternyata sup ini yang menghasilkan bau yang sangaaaat lezat.

  “Selamat pagi bibi, mmm ma.. maafkan aku bangun sangat telat.”
“Ah.. bicara apa, sudahlah, selagi bibi menyiapkan sarapan untuk kita semua, bibi sarankan lebih baik Eun Mi pergi keluar dulu sana, hiruplah udara yang sangat segar, ayo sana.”

  Perintah bibi dengan senyuman yang tak berbeda jauh dengan Jung Kook.

  “Ah, baiklah bi, terima kasih, aku izin pergi ke depan rumah sekarang bi.”
“Iya cepatlah sana, bibi akan melanjutkan memasak.”

  Balasnya, Aku pun berjalan menuju ke luar rumah, aku meraih gagang pintu dihadapanku dan segera membukanya.

  “Pemandangan di pagi hari yang sangat indah.”

  Ucapku pelan setelah melihat langit yang masih terlihat gelap dengan suara burung yang sudah terdengar merdu disekitar sini ditambah udara di pagi hari yang dingin namun begitu menyegarkan pernafasanku.

  “Selamat pagi Eun Mi.”

  Ucap Jung Kook sedikit mengejutkanku, ternyata ia sudah ada disini, aku pun berjalan mendekatinya yang sedang berdiri di pagar kayu rumah ini.

  “Selamat pagi..”
“Tidurmu nyenyak?”
“Ah.. mm tentu saja, bagaimana denganmu? kapan kau bangun?”
“Aku bangun jam 4, tidurku juga sangat nyenyak.”

  Balasnya tersenyum dengan memalingkan muka dariku.

  “Hey, kenapa kau tersenyum begitu?!”
“Hmm? apa? tid.. tidak kok.”

  Jawabnya dengan tersipu malu.

  “Tuh.. tuh kan!! isshh kenapa kau jadi sering memperlihatkan ekspresi begitu hah?!”
“Apa? hehe tidak kok, mau ku ambilkan teh hangat?”
“Mmm mau.”

  Jawabku sedikit cemberut saat menatapnya pergi untuk membawakanku teh, menyebalkan rasanya dia terus tertawa dengan diam-diam begitu, seolah tengah memikirkan sesuatu dan aku jadi sangat penasaran dengan apa yang ia pikirkan sebenarnya.
Tak lama Jung Kook pun kembali dengan dua cangkir teh yang masih mengepul asapnya di kedua tangannya.

  “Ini.”
“Terima kasih.”
“Awas panas.”

  Balasnya, lalu aku pun meniup-niup pelan teh ku dan langsung meminumnya dengan menatap ke arah langit yang sudah mulai terang seketika mataku pun terhenti saat melihat seragamku juga Jung Kook tengah tergantung di langit-langit teras rumah ini yang tak terlalu tinggi.

  “O.. itu kan bajuku.”

  Ucapku terus menatap seragamku yang terangin-angin.

  “Ah iya, semalam aku mencuci seragam kita dan langsung aku gantung diluar agar terkena angin dan seragam kita cepat kering.”

  Jawabnya, ah pantas saja semalam dia masuk ke kamar sangat larut.

  “Apa? kau mencucinya?”
“Iya, tapi.. tas-mu tidak terlalu kotor, di tepuk-tepuk saja debunya sudah hilang, mmm sepatu mu juga sudah di cuci, itu disana.”

  Balasnya lagi seraya menunjuk ke arah luar, aku melihat sepatuku tergeletak di bangku kayu yang berada di depan rumah ini, segera aku berjalan melihat sepatuku yang di dalamnya sudah sangat terpenuhi dengan gulungan-gulungan kertas.

  “Dan gulungan kertas itu…”
“Kau memasukannya ke dalam sepatu agar gulungan-gulungan kertas itu menyerap air di sepatuku hingga proses ini membuat sepatuku lebih cepat kering!”

  Ucapku memotong penjelasan Jung Kook dengan mata ini yang terus tertuju pada sepatuku.

  “Tepat sekali, sebenarnya yang mencuci sepatu itu bukan aku, tapi ibu.”
“Apa?!”

  Ucapku sangat terkejut.

  Lalu…

  Waktu telah menunjukan pukul Setengah 7 pagi, Eun Mi dan Jung Kook sudah selesai mandi dan juga telah bersiap untuk pergi ke sekolah, mereka pun kini sedang berkumpul di ruang tengah yang kecil dengan makanan yang sudah disajikan oleh Ny.Jeon.

  “Ayo cepat makan sarapan kalian yang banyak.”

  Ujar Bibi seraya mengalaskan semangkuk nasi dan sup untukku, aku pun hanya menunduk dengan perasaan yang tidak nyaman.

  “Kang Eun Mi? apa kau tidak ingin makan? apa kau sakit?”

  Tanya Ny.Jeon, seketika Jung Kook pun menatap ke arah Eun Mi yang terus diam dan menunduk.

  “Ah.. tidak begitu bi, terima kasih banyak dan aku meminta maaf atas kelancanganku.”
“Lancang?”
“Bibi mencuci sepatuku yang sangat kotor.”
“Aahh.. iya, soal itu tidak usah merasa tidak enak, semalam ibu mencium bau yang tidak sedap dan ternyata bau itu berasal pada sepatu Eun Mi, kau menginjak kotoran hewan ya? hahaha lain kali lebih hati-hati lagi jika berjalan ya?!”

  Balas bibi seketika sangat membuatku sangat marah terhadap Kim Taehyung juga Grup BANGTAN.

  Kami pun telah selesai dengan sarapan kami pagi ini, aku juga Jung Kook segera bergegas pergi ke sekolah.

  “Jung Kook, ini uang saku-mu tertinggal.”

  Teriak Bibi.

  “Tunggu sebentar ya Eun Mi.”

  Ucap Jung Kook langsung berlari menghampiri ibunya, tidak terlalu jelas aku melihat berapa nominal uang yang di berikan bibi pada Jung Kook, aku lihat hanya 1 lembar, itu pun Jung Kook tidak ingin menerimanya, Sungguh mengerikan jika berkaca pada diriku sendiri, dulu aku selalu marah pada ibu dan ayah jika mereka tidak memberikan uang yang banyak padaku, padahal aku hitung-hitung uang saku harian ku saja sangat besar di bandingkan uang belanja makanan keluarga Jung Kook untuk 4 hari.
Jung Kook pun kembali berlari ke arahku dan melanjutkan perjalanan kami ke sekolah.

  “Kami pergi sekarang Bi, terima kasih atas semuanya.”

  Teriakku segera melambaikan tangan.

  Kami berjalan berdampingan, Jung Kook terus menatapku, aku hanya diam dan menunduk saja, mengingat tipikal wanita Jung Kook kan seseorang yang pendiam.

  “Eun Mi? bajumu masih terasa basah tidak?”
“Hah? mmm tidak.. hanya roknya memang sedikit terasa basah tapi nanti juga akan segera kering, terima kasih banyak ya.”

  Balasku terus menunduk tanpa menatapnya.

  “Oh iya Jung Kook?”
“Ya?”
“Aku tidak melihat ayahmu sejak kemarin aku datang ke rumahmu, dimana dia?”
“Oh, Ayah sedang bekerja di suatu perkebunan, pulangnya sekitar 3 minggu sekali, tapi setiap minggu ayah selalu mengirim uang.”
“Mmm begitu ya, ibumu bekerja apa?”
“Petani.”
“Oh…”

  Balasku langsung diam.

  “Mmm kenapa? apa itu memalukan?”
“Hey! apa yang kau katakan hah? bagaimana bisa itu memalukan?! hmm terkadang semua orang selalu mengambil pendapat dengan hanya satu kali lihat tanpa mengamati lebih dalam, pekerjaan kedua orang tuamu bahkan petani-petani lainnya itu begitu sangatlah mulia.”
“Bagaimana bisa kau mengatakan itu?”
“Pikir saja sendiri. para petani yang kebanyakan tidak berada dan dipandang sebelah mata itu lebih memiliki peranan penting bagi semua orang, mereka sangat memperhatikan dan merawat tanaman mereka dengan sangat baik hingga waktu panen tiba, bahkan saat panen pun mereka selalu memilih entah itu sayuran, buah-buahan, gandum, padi, kacang-kacangan dan sebagainya yang mereka tanam dengan baik, mereka memberikan dan menjual hasil panen dengan kualitas yang sangat bagus untuk kita konsumsi, berbeda dengan mereka sendiri yang terkadang mungkin hanya memakan dari sisa pilihan-pilihan yang tak layak di jual untuk kita konsumsi. pikirkan jika tidak ada petani, apa mungkin semua orang harus membajak sawahnya sendiri? haha”

  Jelasku tersenyum, Jung Kook pun langsung mengelus kepalaku berulang kali.

  “Eun Mi benar, aku sempat terpikir akan pekerjaan kedua orang tuaku yang memalukan, tapi setelah kau berbicara begitu aku menjadi sadar dan bahkan kini aku malu pada diriku dan pemikiranku sebelumnya.”
“Dengar, setiap pekerjaan, entah itu pekerjaan yang tinggi dan rendah, mudah atau susah, semua itu tidak bisa melambangkan baik atau buruknya pribadi seseorang, lihat saja sekarang, banyak sekali pemberitaan dari para pengusaha pintar dan besar di penjara gara-gara terjebak kasus seks, perselingkuhan hingga mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga, juga para pejabat, menteri dan pemimpin-pemimpin besar yang korupsi, mereka dari luar kelihatannya sangat berwibawa dan terpandang, tapi nyatanya? kita tidak pernah tahu dan bisa menilai seseorang hanya dari sepintas pekerjaannya saja.”

  Tambahku lagi.

  “Kau benar, kau sangat benar, orang kaya justru lebih kejam dari orang seperti kita ini, mereka menginjak-injak dan menghina orang tidak berada karena keberanian mereka yang dimiliki dari uang, sangat kasihan.”
“Iya, tapi berbeda denganku, kedua orang tuaku tidak seperti itu!.”

  Balasku tersenyum seketika luntur setelah aku sadari Jung Kook menghentikan langkahnya dan menatapku dengan datar. Ya Tuhaaaann… aku keceplosan, bagaimana ini?!…

  “Kak… kau… kenapa berhenti?”

  Tanyaku gugup, Jung Kook pun kembali melangkah ke arahku.

  “Tidak, hanya saja aku sedikit merasakan sesuatu padamu, kau bertingkah seolah berbeda dan terlihat tengah menyembunyikan sesuatu dariku.”

  Jawabnya datar dan langsung mendahuluiku.

  “Ap.. apa? itu.. tadi maksudku, Jung Kook?! maksudku kedua orang tuaku tidak seperti itu karena kedua orang tua kita kan seorang…”
“Pendiam!!”

  Balasnya menoleh kearahku dengan telunjuknya yang mengarah tepat ke hidungku.

  “Huh?”
“Kau jadi terlihat pendiam setelah makan malam itu, apa kau merasa tidak enak badan?!”

  Sambungnya langsung memegang keningku, Fiuuuhh… dia tidak menyadari akan ucapanku yang kebablasan tadi.

  “Pep… pendiam apa?! iisshh singkirkan ah tanganmu! cepat kita jalan!”

  Ujarku langsung menghempaskan tangannya dan sedikit berlari menghindarinya.

  “Eun Mi pintar, Eun Mi juga cantik, tapi Eun Mi tidak pendiam, jadi Eun Mi bukan tipe wanita yang Jung Kook sukai menurut ibuku.”

  Teriaknya seketika aku mematung dengan kedua pipiku yang terasa sangaaaat panas.
Ya Tuhan, bagaimana bisa dia tahu ini? mungkinkah dia mendengarkan pembicaraanku dan bibi semalam? lalu mengapa dia bisa menyadari akan usahaku yang ingin menjadi wanita pendiam?! aaaahh apa yang harus aku lakukaaann!!, dan terdengar langkahnya mendekat ke arahku lalu tangannya merangkul pundakku.

  “Mungkin ibuku benar, awalnya aku begitu menginginkan teman wanita yang seperti itu, tapi setelah bertemu dengan Eun Mi, ternyata Jung Kook itu lebih suka dengan semua sifat Eun Mi, Pintar, Sangat Pemberani, Baik, Tangguh dan cerewet.”

  Ucapnya, aku pun menatapnya dengan sedikit malu.

  “Beb.. benarkah?”
“Jadilah seperti Kang Eun Mi yang aku kenal dari awal, karena aku sangat menyukai semua yang ada pada dirimu.”

  Jawabnya dengan sangat berbeda  huwaaahh dia tidak malu lagi menatapku dengan lama, malah aku yang merasa aneh sekarang.

  “Ayo jalan, nanti kita kesiangan.”
“Mm.. Hahaha.. tapi aku cantik kan?.”
“Cantik, Pintar.”
“Hahaha aku tahu itu, oh ya, ku dengar hari ini kita pulang akan lebih awal ya? kenapa?”
“Iya, ada rapat para guru jadi nanti pulang sekitar jam 1 siang.”
“Mmm asiikk.. bagaimana jika kita pergi jalan-jalan?”
“Kemana?”
“Kau mau kemana?”
“Toko buku!”
“Oke, aku juga akan memberikanmu sesuatu novel yang sedang laris saat ini.”
“Novel?”
“Iya, kita harus membacanya bersama.”
“Baik.”

  Dia pun menyetujui keinginanku, selepas pelajaran berakhir nanti, kami akan pergi jalan-jalan dengan tujuab utama ke toko buku, sungguh menyenangkan kurasa.

  Sesampainya di Sekolah.
Saat aku dan Jung Kook baru saja masuk ke gerbang tiba-tiba Yoon Starla sahabatku sudah berdiri di sana dengan tatapan yang kesal.

  “Starla? kenapa tidak masuk?”
“Aku menunggumu, cepat ikut aku sekarang!”

  Balasnya sembari menarik tanganku dengan sangat kuat.

  “A… ada apa ini? pelan-pelan! mm Jung Kook? pergilah ke kelas duluan!”

  Teriakku saat berjalan mengikuti Starla yang menarik ku dengan paksa, Jung Kook pun mengangguk dengan bingung.

  Jung Kook pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas namun tiba-tiba seseorang dari belakang menarik tas-nya.

  “Hey! apa-apaan ini, lepaskan! lepaskan aku!”
“Ikut aku!”
“Tidak.. aku tidak mau!”

  Berontak Jung Kook namun sia-sia, Kim Taehyung dan Ho Seok sangat kuat membawa Jung Kook kembali keluar dari gedung sekolah.

Bersambung

By Alda Nugraha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: