HEADLINE NEWS

24/7=Heaven : I’ll Protect You ( Chapter – 20 )

CYMERATitle : 24/7=Heaven : I’ll Protect You!
Genre : School Life, Friendship
Rating : PG 13+
Author : Alda Nugraha
Length : Chaptered #ENDINGpartA || #Chapter20 (2 Chapter Terakhir)
Cast :
*Kang Eun Mi (You)
*Jeon Jung Kook (Member of 방탄소년단)
*Kim Taehyung (Member of 방탄소년단)
*All Member 방탄소년단
*Kim Soo Yi (Fiction)

  Beberapa saat kemudian Eun Mi telah selesai berpakaian setelah ia kembali dari kamar mandi.

  Tok… Tok… Tok…

  Aku menoleh ke arah pintu menyadari Jung Kook di luar sana.

  “Sebentar.”

  Ucapku seraya membuka kunci pintu kamar asramaku.

  “Uh.. kau membeli banyak sekali makanan, kali ini kita akan makan bersama kan?”
“E’em..”

  Balas Jung Kook tersenyum.

  “Sini biar aku saja yang menyiapkan sarapannya.”

  Kang Eun Mi pun segera mengambil semua sarapan di tangan Jung Kook, Ia menatanya di bawah dengan rapi, Sementara Jung Kook hanya tersenyum ke arah Eun Mi.
Jung Kook mengambil sisir yang tergeletak di meja dekat tempat tidur Eun Mi, Ia pun langsung menyisir rambut Eun Mi yang masih basah itu.

  “O.. Jung Kook?”

  Aku terkejut setelah merasakan seseorang menyentuh rambutku, Sontak aku menoleh ke belakang dengan tatapan tajam.

  “Ah.. Apa Eun Mi tidak suka?”

  Ucapnya langsung menjauh dari punggungku.

  “Tid.. Tidak, aku hanya kaget.”
“Kalau begitu Eun Mi lanjutkan saja menyiapkan sarapannya, biar aku menyisir rambut Eun Mi yang panjang ini.”
“Aku sudah selesai menyiapkan sarapannya kok.”
“Makanlah duluan, Biar aku selesaikan menyisir rambut Eun Mi dulu. Oke?”
“Ba.. Baiklah.”

  Jawab Eun Mi kembali memunggungi Jung Kook yang langsung menyisir rambutnya, Eun Mi mengambil satu mangkuk bubur ayam dan memakannya dengan beberapa senyuman yang terpancar di wajahnya.
Jelas sekali Eun Mi sangat bahagia atas perlakuan dari Jung Kook saat ini.

  “Saat di Indonesia apa ada hal yang sangat menarik?”
“Ada, Tentu ada! Ketika aku melihat boneka tradisional disana. Mmmm namanya Wayang! ada salah satu wayang yang bernama cepot, Itu sungguh mirip dengan Yoon Gi! Hahahaha.”
“Wayang? Ah aku tahu bentuk mereka tapi nama-nama mereka aku tidak tahu,  Bagaimana rupa cepot? benarkah seperti Yoon Gi?”
“Iya hahaa Benar. Tunggu ya aku akan browsingkan gambar cepot untukmu hahaha.”

  Ucap Eun Mi seraya menyimpan mangkuk buburnya, Ia mengambil ponselnya dan segera membrowsing gambar Cepot untuk di perlihatkan pada Jung Kook.

  “Nah Ini! Ini dia hahaha lihatlah!”

  Teriak Eun Mi tertawa senang seraya memperlihatkan layar ponselnya pada Jung Kook dengan sendok bubur yang masih teremut di mulutnya.

  “Hehehe.. Eun Mi ini..”

  Jung Kook terkekeh menunduk setelah melihat Wayang Cepot di ponsel Eun Mi.

  “Ahahaha ada apa? benaran mirip kan? hahaha.”
“Mirip darimananya? Hehe..”
“Isshh merah begitu, Yoon Gi juga akan memerah seluruh wajahnya jika dia marah pada kita terus giginya sebenernya lebih mirip dengan…”
“Dengan?”
“Mmm… Dirimu!”

  Tambahku langsung menunjuk gigi Jung Kook yang seperti kelinci. Ia pun langsung memonyongkan bibirnya dan mengambil ponselku lalu menyimpannya di atas tempat tidur.

  “Hahahaha marah? marah?”

  Godaku tertawa ia pun langsung menggeser tubuhku hingga aku kembali menghadap ke depan dan memunggungi dirinya.

  “Cepat habiskan sarapannya!”

  Perintahnya dan kembali menyisirkan rambut panjangku.

  “Ternyata Wayang Cepot lebih mirip dengan Jung Kook ya haha.”
“Iya.. iya..”

  Balas Jung Kook tersenyum.

  Hari Ke-2…
Hari ini kembali aku lalui bersama Jung Kook dengan canda juga tawaan, Hari ini mungkin kami hanya diam saja di dalam gedung sekolah, kami menghabiskan waktu untuk membaca buku di perpustakaan, Ya! di rak biasa, Rak paling belakang. Kami memecahkan beberapa rumus yang masih belum kami kuasai, saling bertukar pikiran dengan membahas segala sesuatu pelajaran favorit dan tak di gemari. Ini adalah cara belajarku bersama Jung Kook. Berdua, Santai, Tertawa namun tetap serius dan berhasil memecahkan semua pertanyaan dari buku-buku tebal yang kami pelajari.

[Perpustakaan ‘04.45pm’]

  Jung Kook tersenyum melihat Eun Mi yang duduk di kursi dengan kepalanya tersandar pada tumpukan buku, Eun Mi tertidur lelap disana, kepalanya menghadap ke arah kiri tepat dimana Jung Kook duduk disampingnya.
Jung Kook menyibakkan poni yang menutupi wajah cantik Eun Mi. Ia mengusap pipi Eun Mi dengan telunjuknya lalu ia meletakan tangannya tepat di pipi kiri Eun Mi itu.

  “Mmhh Haaah…”

  Tangis Jung Kook langsung terisak, ia segera menutup mulutnya dan menghapus air matanya yang keluar.

  “Apa yang harus aku lakukan?”

  Ucap Jung Kook dengan suaranya yang ia tahan, Ia tersedu-sedu menangis dan mengepalkan tangan kanannya dengan kuat. Pandangannya tak luput dari wajah Eun Mi yang saat ini tertidur di atas tumpukan buku.

  Hari Ke-3…
Hari ini aku juga Jung Kook pergi ke suatu tempat dimana ini tidak pernah menjadi sesuatu yang di rencanakan sebelumnya. Kali ini kami pergi mengunjungi panti asuhan yang letaknya cukup lumayan jauh. Kami kembali bersenang-senang disana bersama semua adik-adik manis yang sangat bersemangat. Aku membelikan sebagian uang di atm-ku untuk membeli peralatan tulis juga mainan bagi mereka.
Bernyanyi, Bermain, Membuat rumah hingga kue tart dari lumpur, Sepak bola di rerumputan basah yang tergenangi air hujan juga berkumpul dan membacakan cerita untuk mereka.
Jung Kook… dia adalah sesuatu hal yang sosoknya tak pernah ku duga. Jiwa sosialnya dan rasa simpatinya benar-benar membuatku kagum.

Hari Ke-4…
Hari ini kami pergi ke suatu danau, Belakangan ini cuacanya selalu mendung. Jung Kook melarangku untuk mendekati air danau ini namun aku tetap bersi keras mendekati bibir danau meskipun ia sama sekali tak mau mendekatiku, dia bilang dia takut terjatuh hahaha.

  “Eun Mi! Cepat kemari! Nanti kau jatuh!”

  Teriak Jung Kook yang duduk di atas pohon besar dari kejauhan, Aku pun hanya diam dengan memegangi gagang pancingku.

  “Eun Mi!!! Ikannya tidak akan ada! Cepat kita pulang, ini sudah gerimis.”

  Teriaknya lagi namun aku abaikan.
Lalu aku mendengar langkah kaki mendekatiku.

  “Aaaaa Jung Kook!”

  Teriakku menoleh ke belakang setelah aku merasakan sesuatu di masukan pada hoodie jaketku.

  “Makan apelnya, Aku tunggu di bawah pohon yang disana saja ya?”

  Balasnya segera kembali berlari ke arah dimana tadi ia duduk, Aku pun mengambil apel merah yang ia masukkan ke dalam hoodie jaketku.

  “Issh dasar penakut!”

  Cerocos Eun Mi dengan memeletkan lidahnya dan langsung menggigit apel pemberian dari Jung Kook.

  Hari Ke-5…

[Taman | 08.12pm]

  “Hahaha, Yang benar mengayuh sepedanya isshh!”

  Ucapku seraya memukuli punggung Jung Kook.

  Malam Ke-5, Aku bersama Jung Kook seharian ini bermain sepeda bersama, entah darimana Jung Kook mendapatkan sepeda itu namun percayalah, Kami mulai berboncengan sepeda dari siang dan pulang hingga selarut ini.

[Gerbang Sekolah | 11.23pm]

  “Satpam disini tidak ada? kemana mereka?”

  Tanyaku kebingungan, Jung Kook pun segera memakaikan mantelnya kepadaku.

  “Sudah, Cepat masuk, kita harus beristirahat sekarang.”

  Balas Jung Kook

  Sementara itu Park Jimin menghentikan mobilnya dan menatap ke arah gerbang sekolah, Segera ia mengambil ponselnya dan terlihat menelepon seseorang.

  “Si Pembela Kebenaran itu sudah kembali, Aku baru saja melihatnya masuk ke sekolah, Aku pikir dia tinggal di asrama.”

  Ujar Jimin dengan terus menatap Eun Mi yang sudah berlalu dengan tajam.

  Hari Ke-6…

[Kamar Asrama Puteri | ‘10.12am’]

  “Apa yang sedang Eun Mi buat?”

  Tanya Jung Kook menatapku yang saat ini sedang membuat sketsa wajahnya, Segera aku menyembunyikan gambaran buatanku ini darinya.

  “Apa? hehehe”
“Kenapa di sembunyikan? Coba sini aku lihat.”
“Et.. Tidak!”
“Eun Mi pelit ah.”
“Biar saja wleeee..”

  Balasku seraya menjulurkan lidah kearahnya.

  “Oh Ya, Semalam ah tidak, tadi saat dini hari aku terbangun dan ku lihat kau tidak ada di bawah. Kau kemana?”
“Ah aku sedang pergi ke toilet buang air kecil.”
“Oh..”
“Kenapa?”
“Mmm Tidak, hanya saja aku merasa akhir-akhir ini kau sering menghilang secara tiba-tiba, Kau menyembunyikan sesuatu dariku ya?”
“Eun Mi ini bicara apa? Ayo kita ke halaman belakang sekolah.”
“Mau apa? Saat ini hujan sedang turun.”
“Tak apa, justru itu lebih bagus. Ayo kita bermain hujan.”

  Ajaknya lagi, Aku pun tersenyum dan segera meraih tangannya yang sudah terulur.

  “Ini hari ke-6 kita bukan?”

  Tanyaku seraya berjalan mengikutinya dengan tangan ini yang ia genggam erat.

  “Iya, Besok adalah hari terakhir untuk waktu 24 Jam dalam 7 Hari penuh bersama Kang Eun Mi.”
“Apa kau akan meninggalkan Seoul?”

  Tanya Eun Mi sedih.

  Sementara itu…

[Kediaman Kim Taehyung]

  “Jin Hyung? Ah, Apa kabarmu?”
“Sangat baik Taehyung, Eun Mi sudah kembali dari Indonesia bukan?”
“Mmm, Dia sudah kembali namun saat ini aku tidak mengetahui dimana dia berada bahkan nomor ponselnya pun aku tak memilikinya.”
“Aku tahu Kang Eun Mi berada dimana saat ini.”
“Hyung…”
“Ikut aku sekarang.”

  Tegas Seok Jin, Segera Taehyung juga Seok Jin pun bergegas pergi untuk menyusul Kang Eun Mi yang saat ini berada di Asrama Sekolah.

[Halaman Belakang Sekolah]

  Aku mendangahkan wajahku ke atas, ku rentangkan kedua tanganku hingga semua tetesan air hujan ini terasa jatuh memukuli seluruh tubuhku.

  Jung Kook tersenyum di hadapan sahabatnya yang begitu ia kagumi, Ia menatap wajah Eun Mi yang mendongak ke atas.

  “Aku menyukaimu.”

  Ucap Jung Kook dengan tersenyum kagum pada wajah sahabatnya itu.

  Terdengar Jung Kook mengatakan sesuatu hingga aku membuka kedua mataku dan menatapnya yang saat ini sedang melihatku dengan senyuman dan mata yang memerah.

  “Apa? Kau bilang apa? Suara gemuruh hujan menyamarkan perkataanmu.”
“Tidak ada, Aku tidak bilang apapun.”
“Benarkah?”

  Ucapku sedikit berteriak. Suara kami tidak terdengar jelas, Hujan lebat ini sungguh menyamarkan suara kami. Tunggu… Aku melihat saat ini Jung Kook tengah menangis di bawah keroyokan air hujan.
Ia tersenyum semakin lebar dan sesekali menunduk, Aku menatapnya dengan penuh penasaran. Aku melangkah mendekatinya dan langsung membelai kepalanya.

  “Menangis saja. Itu akan jauh lebih baik.”

  Ucapku lalu Jung Kook pun langsung mengangkat wajahnya setelah kami mendengar beberapa langkah kaki mendekat kesini, Perhatian kami langsung tertuju pada dua orang yang datang menghampiri aku juga Jung Kook.

“O.. Jin Oppa? Taehyung? Sed.. sedang apa kalian maksudku mau apa kalian kemari?”

  Tanya Eun Mi cemas.

  Jung Kook pun segera berdiri di belakangku dengan memegang tanganku erat seolah ketakutan.

  “Kau sedang apa disini?”

  Tanya Seok Jin dengan wajahnya yang merah dengan nada kesal.

  “Aku dan Jung Kook sedang bermain saja di asrama.”
“Ap.. Apa?!”

  Sambar Taehyung terkejut menatap ke arah tangan Eun Mi yang tersembunyi di belakang.

  Aku terus menggenggam tangan Jung Kook yang gemetar di balik punggungku. Aku tatap wajah Taehyung juga Jin Oppa dengan lantang.

  “Halo Jung Kook. Bagaimana kabarmu? Kenapa kau bersembunyi dari kami?”

  Ujar Seok Jin Oppa seketika aku menoleh ke arah belakang dimana Jung Kook hanya terdiam menunduk.

  “Jung Kook merasa tidak nyaman jadi pergilah dan jangan adukan apapun pada Yoon…”
“Aku menyukaimu! Aku bisa menjagamu lebih baik dari siapapun!”

  Deug.. Tubuh ini langsung ditarik ke arah dimana Jin Oppa berdiri di hadapanku. Ia memelukku erat di hadapan Taehyung juga Jung Kook.

  “Jin Oppa.. Aku mohon lepas…”
“DIAM! Biarkan Jung Kook mengetahuinya! Biarkan dia tahu bahwa aku disini lebih mampu menjagamu dibandingkan dia.”

  Tegas Seok Jin dengan menitihkan air matanya, Perasaan Seok Jin membludak hingga ia terpejam merasakan apa yang saat ini menjadi ketakutannya terasa terjadi nyata.
Jung Kook pun langsung melepaskan tangan kanan Eun Mi yang saat itu masih memegangi tangannya.

  “Oppa! Apa yang kau…”
“Jin Hyung benar! Seharusnya Jung Kook tidak usah khawatirkan Miss Right lagi! Karena disini masih ada kami semua yang akan menjaganya dengan sangat baik.”

  Tambah Taehyung sangat terdengar jelas, Lalu ku rasakan pelukan Jin Oppa semakin di pereratnya.

  “Semua tetesan air hujan inilah yang akan menjadi saksinya. Kang Eun Mi, Tolong! Sadarlah! Sadarlaaaah!”

  Batin Seok Jin berteriak kesal.

  Aku merasakan sesuatu yang aneh sekarang. Apa yang akan mereka lakukan sebenarnya? Aku langsung melepas pelukan Jin Oppa dengan kasar. Aku tatap mereka satu per satu.

  “Ayo kita pulang!”

  Ajak Jin Oppa menangis.

  “Tidak! Kenapa kalian berdua menatapku seolah aku ini gila hah? Pergilah! Aku tahu maksud kedatangan kalian berdua.”
“Kang Eun Mi!”

  Balas Seok Jin namun Eun Mi langsung berbalik menatap Jung Kook yang tertunduk, Segera Eun Mi meraih tangan Jung Kook dan membawanya ke dalam asrama.
Kang Eun Mi sangat marah saat ini akan perlakuan Seok Jin yang sangat terang-terangan mengungkapkan perasaannya di hadapan Jung Kook.

  “Seok Jin Sunbae terlihat benar-benar menyukai Eun Mi.”

  Ucap Jung Kook terlontar langsung menghentikan langkah kaki ku.

  “Namun semua itu takkan mampu membuatku diam dan mengalah membiarkan Eun Mi pergi begitu saja dari sini.”

  Sambungnya, Aku pun menoleh ke arahnya dengan perasaan kesal.

  “Aku sudah pernah mengatakan sebelumnya bukan? ‘Aku Menyukaimu!’ “

  Tekanku lagi dan segera menuntunnya kembali menuju kamar asrama ku.

[Halaman Belakang Sekolah]

  “Kau lihat cara dia menolakku?”

  Ucap Seok Jin tersenyum sedih.

  “Aku bilang biarkan dia disini untuk sementara waktu. Sudahlah, Kita percayakan Miss Right pada penjaga sekolah yang bersembunyi disini. CCTV tetap terpasang baik. Mungkin ini adalah salah satu cobaan terberat untuknya.”
“Aku tahu itu. Tapi siapa yang..”
“Sudahlah Hyung, Lebih baik kita pulang sekarang. Besok kita kembali lagi kesini, Kita pastikan Miss Right dalam keadaan baik.”

  Jelas Taehyung segera merangkul Hyung-nya itu untuk segera meninggalkan gedung sekolah.

[Kamar Asrama Puteri]

  Aku mengeringkan rambut Jung Kook menggunakan Hairdryerku, Handuk berwarna putih tergantung di leher kami berdua, Sementara aku sibuk dengan rambutnya yang tengah aku keringkan, ia pun sibuk menggosok rambutku dengan handuk miliknya.

  “Hey! hahaha diam lah, aku jadi kesulitan untuk mengeringkan rambutmu!”

  Ucapku tersenyum padanya namun ia tak menghiraukannya.
Seperti biasa candaan demi candaan terlempar dariku untuk Jung Kook. Saat ini kami duduk di atas tempat tidur yang sama, Kaki ku selonjoran ke arahnya begitupun sebaliknya, Aku menarik-narik jempol kaki Jung Kook yang tersuguh di sisi kiriku. Ia memeluk bantal dengan tersenyum-senyum menatapku.

  “Aku merasa sudah menjadi seorang isteri yang sangaaaaat baik untukmu.”
“Benarkah? Aku tidak merasakan itu ah. Yang aku rasakan adalah penindasan dari seorang majikan.”
“HEY!!!”
“Hahaha, Aku bercanda.”

  Ucapnya tertawa.

  Hari Ke-6 pun telah terlewati, Jung Kook beranjak dari atas tempat tidur itu, Ia menarik selimut dan langsung menutupi seluruh tubuh Eun Mi hingga bagian leher dengan selimut hangat. Ia kembali terhenti bergerak setelah menatap wajah Eun Mi yang terlelap damai.

  “Seharusnya aku meminta waktu 24 Jam dalam 7000 Tahun bersama Eun Mi. Bukannya 7 Hari saja.”

  Ujar Jung Kook sangat pelan seraya tersenyum mengagumi wajah Eun Mi.

Lalu…

  Aku terbangun dari tidurku. Aku terkejut saat membuka mata Jung Kook tidak ada di kamarku, Aku bangkit dan langsung melihat ke arah jam, Saat ini tepat pukul 1 Dini hari.

  “Jung Kook?!”

  Teriakku segera keluar dari kamar asrama, Sungguh bulu kuduk ku merinding setelah melihat ke sekelilingku, Koridor asrama benarlah sangat gelap.

  “Jeon Jung Kook?! Kau dimana?!”

  Teriakku langsung berlari mencarinya ke halaman belakang dengan bertelanjang kaki. Lalu langkah ini terhenti saat aku melihat Jung Kook sedang duduk di anak tangga yang mengarah ke lapangan olahraga. Perlahan aku mendekatinya dengan penuh pertanyaan.

  “Jung Kook? Sedang apa kau disini?”

  Tanyaku lalu ia pun menoleh ke arahku dan tersenyum.

  “Eun Mi? Kau terbangun?”
“Sedang apa disini hah? Gelap sekali disini, lampunya tak membuat penglihatanku jelas.”

  Balasku segera duduk disampingnya.

  “Aku kesulitan untuk tidur.”
“Kau memikirkan sesuatu yang berat ya?”
“Mmm.”
“Apa itu?”
“Entahlah.”
“Katakan padaku! mungkin aku bisa membantumu”
“Tidak ada Eun Mi.”
“Kau bohong!”
“Ssstt.. Jangan Memikirkan apapun, jangan berkata apapun. Tetaplah disampingku dan tertawa bersamaku.”
“Ah.. itu kutipan novel Butterfly!!!”
“Hahha bukan kok!”
“Iya issshh!”
“Jadi Eun Mi membacanya juga ya?”
“Oh? Mmm tid.. tidak kok iisshh.”

  Balas Eun Mi langsung menampakkan bibirnya yang cemberut, Jung Kook pun langsung melepas syal yang melingkar di lehernya itu dan kembali memasangkan syalnya bersamaan dengan leher Eun Mi yang duduk di samping kirinya.

  Malam itu kami berbagi syal bersama, bukan syal itu yang membuat malamku hangat, tapi keberadaannya yang membuatku merasa benar-benar hangat.

[Ke’esokan Harinya ‘06.21am’]

  Hari Ke-7…

  “Selamat pagi, Aku bahagia 6 hari terakhir ini saat bangun tidur aku melihat wajahmu. Sebentar lagi aku akan pergi mandi lalu berpakaian dan kau akan menyisir rambutku seperti biasa.”

  Sapa Eun Mi saat ia telah membuka kedua matanya dengan senyuman yang terkembang di bibirnya.

  “Selamat pagi, Aku bahagia 6 hari terakhir ini saat aku terbangun dari tidurku, Aku langsung melihat wajah Eun Mi yang masih terpejam. Lalu sebentar lagi aku akan keluar membeli makan dan setelah kembali aku akan segera mengambil sisir untuk merapikan rambut Eun Mi yang masih basah. Seperti biasa.”

  Balas Jung Kook tersenyum.

  “Hehehe…”

  Aku terkekeh dan langsung bangun, Aku memeluk kedua lututku tanpa melepas pandanganku darinya.

  “Ini bukanlah akhir kan?”

  Tanyaku langsung membuat wajah Jung Kook murung sesaat namun ia langsung tersenyum dan mengambil handuk dan diberikannya ke pangkuanku.

  “Cepat mandi, aku akan membeli sarapan.”

  Jawabnya dengan pergi begitu saja meninggalkan kamarku.

  “Isssh.. ada apa dengannya?”

  Batinku menatapnya sinis.

  Hari Ke-7 , Hari ini terasa aneh sekali, Jung Kook terlihat lebih pendiam dari biasanya, Sifat canggung dan malu-malunya kembali keluar. Seharian ini pun dia hanya ingin menghabiskan sisa waktu 24 Jam dalam 7 Hari itu untuk berdiam saja di meja kantin dengan terus memegangi tanganku, Dia terlihat sangat sedih namun aku berkata padanya bahwa ‘Mulai detik ini Jung Kook dan aku akan selalu bersama hingga akhir!.’ Entah perkataanku itu salah atau tidak menghiburnya, ku lihat Jung Kook malah semakin sedih.

[Perpustakaan ‘10.12pm’]

  “Uji nyali! Uji Nyali.. Kau sama sekali tidak takut di perpustakaan hanya berdua saja denganku?”

  Tanyaku dengan penuh semangat, Jung Kook pun tersenyum menggelengkan kepalanya dan mengusap kepalaku.

  “Ayo kita bermain petak umpet, 2 Jam lagi waktu kita hampir habis. Lagipula uji nyali sebenarnya bukannya ketika kita bermain petak umpet di malam hari? Setidaknya itu yang aku baca mengenai mitos di negara Indonesia bukan? hehe.”

  Ajaknya.

  “Ah kau benar mengenai mitos itu. Kalau begitu ayolah! Tapi kau jangan menangis jika menemukan hantu nantinya ya? Hahaa.”
“Ayo kita mulai..”

  Ucap Jung Kook aku pun langsung menyentuh pipinya menggunakan 1 jari telunjukku.

  “Kena. Kau yang jaga!”

  Ujarku segera berlari meninggalkan Jung Kook sendirian di perpustakaan.

  “Dasar Curang!”

  Balas Jung Kook langsung tersenyum menatap Eun Mi yang berlalu pergi untuk bersembunyi.
Perlahan senyuman itu luntur dari bibirnya, Ia mengarahkan pandangannya pada Jam dinding di perpustakaan.

  “Kurang dari 2 jam.”

  Keluh Jung Kook.

  “Eun Mi Sudah Siaaaap?!! Siap atau tidak aku mencarimu sekaraaaang!”

  Teriak Jung Kook langsung berjalan mencari sahabatnya itu.

  Sementara Itu…

  Kang Eun Mi terlihat pergi ke loker satpam, Ia mengambil kunci-kunci ruangan sekolah, Lalu ia tersenyum ketika mendapatkan kunci ruang kepala sekolah disana.

  “Aku yakin Jung Kook takkan pernah mencariku ke ruang kepala sekokah.”

  Batinku segera mengambil kunci ini dan berlari pergi memutar ke arah koridor lain untuk segera sampai di ruang kepala sekolah.

  “Kang Eun Mi…”

  Teriak Jung Kook sangat mengejutkanku. Suaranya terasa semakin dekat tentu aku segera berlari sekuat tenaga hingga akhirnya aku sudah sampai di depan pintu ruang KepSek.

  “Aiissshh… Tuhaaaannn kenapa kuncinya sulit dimasukkan!!”

  Bisikku dalam hati seraya menyoroti kunci ini menggunakan lampu center ponselku dan Kreekk…. Pintu ruangan kepala sekolah terbuka segera aku masuk ke dalam dengan cepat.

  Bruuugg… Pintu ruang kepala sekolah terdengar jelas oleh Jung Kook.

  “Kena kau!”

  Ucap Jung Kook pelan dan segera berlari ke arah Ruang Kepala Sekolah.

[Ruang Kepala Sekolah]

  Disini teramat sangat gelap terlebih aku mematikan lampu center dari ponselku karena aku khawatir Jung Kook akan menemukanku. Aku terus menatap ke arah pintu, Ku rasa Jung Kook takkan menemukanku. Perlahan aku melangkah mundur dan mundur.

  Duuug… Braaaakkk…

  “Hah!”

  Aku sedikit terkejut setelah aku menabrak suatu lemari dibelakangku hingga buku-buku juga kertas-kertas menimpaku dan berjatuhan ke lantai.

  “Aiiisshh gawaaat!!”

  Keluhku segera mengambil ponselku dan kembali menyalakan lampu centernya.

  “Eun Mi kau tak apa?!”

  Teriak Jung Kook terdengar dari luar, Aku pun segera membungkuk dan mengambil buku juga kertas-kertas berserakan ini. Seketika mata ini tertuju pada suatu koran yang tergeletak di hadapanku.
Mata ini terbelelak, Jantung ini berdebar kencang hingga keringat dingin langsung terasa mengalir dari wajahku, Aku berdiri dengan koran yang saat ini ku baca yang bertuliskan…

  ‘Salah satu siswa dari Sekolah terfavorit di Seoul bernama Jeon Jung Kook MENINGGAL DUNIA. Korban di temukan tewas di pinggir jalan tak jauh dari rumahnya.’

  “Eun Mi? Apa kau baik saja?”

  Seketika lampu ruangan kepala sekolah ini menyala dengan terangnya setelah Jung Kook masuk ke dalam.

  Kang Eun Mi hanya terdiam menatap koran ditangannya, perlahan Ia mengangkat wajahnya dan menatap Jung Kook yang saat ini berdiri di ambang pintu.

  “Eun Mi? Ada apa? Kenapa disini berantakan sekali?”

  Tanya Jung Kook terlihat kebingungan. Aku pun mendekat ke arahnya dengan koran yang aku pegang.

  “Siapa yang melakukan ini padamu?”
“Eun… Eun Mi..”
“SIAPA YANG MEMBUAT BERITA LELUCON YANG TERSEBAR DI KORAN INI HAH!!”

  Bentakku teramat marah dengan melemparkan koran itu ke hadapannya. Ia tentu mengambil koran itu dan menatapku dengan mata berkaca-kaca.

  “Itu..”
“Min Yoon Gi?! Hehe, Tentu ini perbuatannya!”
“Bub.. Bukan Eun Mi.”
“Brengse*!! Aku harus mengakhiri semuanya!!”

  Teriakku teramat emosi namun Jung Kook menahan lengan kiriku.

  “Tidak Eun Mi! itu tidak benar! Min Yoon Gi Sunbae tidak melakukan apapun! Berita itu…”

  Tangisnya langsung membuatku sangat terkejut, Aku menoleh ke arahnya dengan perasaan bingung yang hampir membuatku gila.

  “APA?! KENAPA KAU MASIH MEMBELANYA HAH?! JADI INI ALASANMU MENGHINDARI MIN YOON GI?! Dia tidak berhak melakukan ini! INI KEJAHATAN! kenapa kau selalu diam saja dan menerima SEMUANYA!!”
“Eun Mi.. itu tidak benar, Yoon Gi Sunbae tidak bersalah.. Dia..”
“DIAM! BERHENTILAH JADI ORANG BODOH DAN CULUN! BISAKAH KAU BERHENTI UNTUK TAKUT PADANYA!!! Sudah ku bilang untuk laporkan dia pad..”

  Deug… Jantungku langsung terasa di pukul dengan benda yang sangat berat dan besar. Apa yang aku alami saat ini? Aku langsung berhenti memarahinya ketika aku tak sengaja menoleh ke arah samping kiriku, Terdapat cermin besar di ruangan kepala sekolah ini, Aku sendirian sekarang.

  “Kau dimana? Jung Kook…”

  Ucapku pelan seraya terus menatap cermin di sampingku.

  “JEON JUNG KOOK!”

  Teriak Eun Mi berangsur menangis.

  “Aku disini Eun Mi..”

  Balasnya terdengar, Perlahan aku menoleh ke arah lenganku yang terasa erat di genggam, Ada seseorang yang memegangku saat ini. Jeon Jung Kook, Dia disini, Aku tak sendirian.

  Kang Eun Mi pun kembali menoleh ke arah cermin, Tak ada bayangan Jung Kook memantul disana, Ia kembali menatap ke arah lengannya yang masih di tahan oleh Jung Kook.

  “Hah…”

  Eun Mi sangat terkejut dan menghempaskan tangan Jung Kook yang menahannya, Ia menutup mulutnya dan menunduk, Ia berjalan mundur perlahan menjauhi Jung Kook dengan air mata yang terus berjatuhan.

  “Kang Eun Mi?”

  Suara itu sangat jelas terdengar, Aku mengangkat wajahku dan menatap dia yang masih berdiri tegap di hadapanku dengan wajah yang menyakitkan hatiku.

  “Kenapa bayanganmu tidak ada di cermin? Hah.. Ada apa ini?”
“Eun Mi…”

  Balas Jung Kook ikut menangis dan mendekatiku.

  “JANGAN MENDEKAT!!”

  Teriakku spontan. Ia menghentikan langkahnya dan menunduk tersedu-sedu.

#Flashback (H-1 Pertukaran Pelajar)

[Bangunan Permohonan]

  “Kau bilang apapun yang kita inginkan disini suatu waktu akan terkabul kan?”
“Mmm..”
“Kau tahu apa yang baru saja aku minta pada bangunan permohonan ini?”

  Tanya Eun Mi menatap Jung Kook yang kebingungan.

  “Aku meminta untuk tidak pernah melihatmu lagi!”

  Tegas Eun Mi dengan mata yang memerah seketika langsung membuat Jung Kook menitihkan air matanya.

  “Ap… apa yang kau katakan? Eun Mi… it.. itu.. itu tidak boleh! Eun Mi…”

  Rengeknya langsung membuat Eun Mi beranjak dari bangunan itu. Ia langsung memeluk Eun Mi dari belakang sangat erat. Perut Eun Mi kini terlingkar oleh kedua tangannya. Jung Kook menangis, menempatkan wajahnya di pundak kiri Eun Mi.

  “Buat permintaan lagi! buatlah! permohonan tulus untuk membatalkan keinginanmu barusan. Aku mohon.”
“Jeon Jung Kook lepaskan aku!”
“Aku mohon Eun Mi aah.. Aku Mohon…”

  Rengek Jung Kook membuat Eun Mi tak mampu munafik dengan kesedihannya.

#FlashbackOFF.

  “Benar! Bangunan itu! Aku harus kesana sekarang! Aku harus kesana sekarang!”

  Gumam Eun Mi dengan air mata yang terus mengalir, Segera Eun Mi berlari begitu saja tanpa memperdulikan waktu dan pakaian yang ia kenakan saat ini.

  “Eun Mi? Kau mau kemana?”

  Tanya Jung Kook tak dihiraukannya.

  Sementara itu…

  Di dalam gelapnya malam Eun Mi berlari sekuat tenaga, Sandalnya kini entah dimana, ia berlari dan berkali-kali terjatuh ke genangan air di jalanan, Piama yang ia pakai kini basah dan kotor, rambutnya terurai berantakan dengan isak tangis yang semakin memperparah keadaannya.

[Bangunan Permohonan ‘10.34pm’]

  Aku berjalan masuk ke dalam gedung permohonan ini, Aku menatap wajahku di sekeliling dinding berlapiskan cermin.
Aku mendangah ke langit-langit bangunan yang sudah di penuhi lubang. Lantai disini basah juga kotor.

  “KEMBALIKAN JUNG KOOK KU! AKU TIDAK PERNAH PERCAYA TAKHAYUL TAPI KENAPA KAU MENGABULKAN UCAPANKU! BAIKLAH AKU PERCAYA, SEKARANG KEMBALIKAN DIA PADAKUUUUUHHH Hahh… KEMBALIKAAAANNNNN!”

  Teriak Eun Mi dengan tangis meraung-raung.

  Aku pun langsung merasakan kehangatan di tubuhku, aku terkejut saat menyadari kini aku sedang berada di pelukan Jung Kook. Sejak kapan dia ada disini? Bagaimana dia melakukannya? Batinku terus berkata seperti itu.

  “Hah.. Jung Kook.. Hah.. Aku..”

  Kata ini sulit terungkapkan setelah menyadari kehadiran Jung Kook yang muncul tiba-tiba. Ia pun tersenyum dan mengusap air mataku, Ia menatap ke arah depan dimana cermin ini terpapar dihadapan kami, Aku pun menatap ke arah cermin. Aku terkejut dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Bayanganku ada disana namun tidak dengan bayangan Jung Kook padahal saat ini dia sedang berada di sampingku, memelukku erat. Seketika aku melepas pelukannya dan kembali menjauh darinya, aku mendekat ke arah cermin ini dan menyentuhnya.

  “Eun Mi mulai takut padaku sekarang?”

  Ucapnya lembut dengan tangis.

  “AARRRRGGGGHHH!!”

  Teriakku langsung meninju cermin dihadapanku.

  “Kenapa semua ini terjadi!!!!! Aku bahkan sulit untuk merasakan apapun sekarang! AAARRGGHH!”
“Eun Mi tolong jangan! Hentikan aku mohon.”

  Jung Kook langsung memeluk Eun Mi dari belakang dan menahan kedua tangan Eun Mi yang sudah berlumuran darah akibat memecahkan cermin besar di hadapannya itu menggunakan kepalan tangannya sendiri.

  “Semua ini salahku.”

  Tangis Eun Mi semakin menjadi.

  “Tidak benar Eun Mi! Itu Tidak benar!”
“APA KAU TIDAK INGAT KETIKA AKU MEMINTA UNTUK TIDAK PERNAH MELIHATMU LAGI SESAAT AKU AKAN PERGI KE INDONESIA HAH?! kita datang ke bangunan ini dan aku meminta permohonan agar aku tak pernah melihatmu lagi!!! dan itu semua jadi kenyataan, ini salahkuuu hah.. tidak… jangan Jung Kook! Jangann, TUHAAAANN KEMBALIKAN JUNG KOOK!”

  Teriak Eun Mi sangat menjadi-jadi.
Jung Kook ikut menangis dan langsung berlutut di hadapan Eun Mi.

  “Waktu yang ku miliki tak banyak lagi, 1 Jam lagih… Hanya 1 Jam lagihh aku mampu bersamamu.”
“Apa? Tap… tapi kenapa?”
“Aku tidak mengerti, Hanya Eun Mi yang bisa melihatku namun beberapa malam terakhir ini aku seolah tak bisa kendalikan diriku sendiri. Aku terus menatap Eun Mi ketika tidur dan tanpa ku sadari tiba-tiba aku ada di suatu tempat yang berbeda meskipun kita masih di gedung sekolah yang sama. Aku rasa Tuhan memberikanku kesempatan agar kita bisa menjalankan perjanjian kita.”

  Jelas Jung Kook menangis.

  “Itu alasannya, Dua malam terakhir ini ketika aku terbangun dari tidurku Jung Kook selalu tak ada di kamarku.”

  Batin Eun Mi lalu tangan Jung Kook pun terulur padanya, Eun Mi menatap tangan Jung Kook itu.

  “Ayo kita selesaikan waktu yang tersisa. Kita kembali ke sekolah sekarang.”

  Pintanya tersenyum dengan air matanya yang membasahi kedua pipinya, Aku pun tersenyum dan langsung meraih tangannya dan berlari namun hanya 3 langkah saja yang ku ambil seketika kedua kaki ku ini berhenti, Aku merasakan Jung Kook tidak menggapai tanganku.

  Kang Eun Mi menoleh ke belakang dengan matanya yang masih terurai air mata, Jung Kook hanya tersenyum dengan posisi tangan yang masih terulur.

  “Aku tidak bisa menyentuhnya sekarang.”

  Batin Eun Mi, Jung Kook pun berjalan menghampiri Eun Mi dengan senyumannya.

  “Ak.. aku… mengapa aku..”

  Kata ku sangat kebingungan setelah aku tak mampu menyentuh tangannya sama sekali.

  “Sstt.. Kita masih bersama, Ini bukan masalah sekarang, Ayo kita kembali ke sekolah.”

  Ucapnya mencoba menyembunyikan kesedihannya. Jung Kook berjalan mendahuluiku, Aku mencoba membalas senyumannya dan mengikutinya, Tubuhnya terlihat agak transparan sekarang.

  “Kau seperti Casper.”

  Goda Eun Mi segera berlari mengikuti Jung Kook.

  “Dan Eun Mi seperti Elsa.”
“Frozen?”
“Iya, Sangat cantik.”
“Elsa rambutnya blonde.”
“Kalau begitu Eun Mi seperti Elsa Dongsaeng saja, Siapa namanya? dia kan berambut cokelat.”
“Namanya Eun Mi.”
“Isshhh dasar.”

  Balas Jung Kook seraya mencubit pipi Eun Mi namun tak bisa, mereka sempat berdiam dan berpandangan, Saling menahan kesedihan dengan senyuman berhiaskan air mata.

  “Ini bukan masalah. Tak bisa menyentuhku yang penting kita bersama kan?”

  Ucapku terus menahan air mataku yang mendesak. Jung Kook pun mengangguk dan kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju sekolah.

[Kelas 1-2]

  Kini aku juga Jung Kook berada di dalam kelas kami, Sebelumnya aku dan dia mendatangi ruangan uks untuk mengobati luka-luka di tangan kananku, Meskipun Jung Kook tak bisa mengobati semua luka di tanganku oleh tangannya sendiri, Tak apa, Semua ini tak jadi masalah selama dia masih bersamaku.
Jung Kook duduk di mejanya yang paling belakang dan aku duduk di mejaku yang berada jauh di depannya.

  Jung Kook menatap Eun Mi dengan posisi duduk ia seperti ketika masih sekolah sementara Eun Mi menoleh ke belakang menatap Jung Kook yang duduk di paling belakang.

  “Apa kita akan berdiam diri saja disini?”

  Tanya Jung Kook menyadarkanku yang sedari tadi menatapnya.

  “Hah…”

  Aku menarik nafasku dan menatap ke arah Jam dinding di atas papan tulis di depanku.

  “Jam sudah menunjukkan pukul 11.21 malam, Waktunya hanya tersisa kurang dari 40 menit lagi.”

  Batinku. Lalu aku pun menoleh ke samping kiriku dan seketika aku sedikit terperenjat saat aku melihat Jung Kook sudah duduk di sampingku.

  “Ah..”
“Eun Mi takut?”
“Tidak! Aku sedikit kaget. Langkah kakimu tidak terdengar.”

  Balasku, Jung Kook pun tersenyum dan menatapku, Ia kembali mengarahkan tangannya di kepalaku, Ia perlahan mengelus kembali kepalaku seperti biasa. Tak terasa sama sekali, Sentuhannya benar-benar tak kurasakan namun aku masih bisa melihatnya, Dia sedang mengusap-usap kepalaku. Jung Kook sedang mencoba menenangkan kegundahan hatiku.

  “Bagaimana jika kita ke halaman belakang sekolah?”

  Ajaknya namun Aku tak menjawab dan tetap menatap wajahnya yang terasa semakin tak terlihat.

  “Kita disini saja.”
“Eun Mi… Bukankah ini tak jadi masalah selama kita bersama?”

  Jawabnya, Aku pun mengalah dan mengangguk dengan tertunduk.

[Halaman Belakang Sekolah | 11.46pm]

  “Wah.. Rumputnya terlihat agak basah ya? Pasti ini karena hujan yang turun belakangan ini.”

  Ucap Jung Kook namun Eun Mi hanya diam dan terus menatap jam tangannya.

  “Eun Mi?”

  Tanya Jung Kook menyadarkanku.

  “Ya?”

  Balasku langsung menatap wajahnya.

  “Ayo kita duduk di rumput sana, Tak terlalu basah sepertinya.”
“Ah ya, Ayo kita kesana.”

  Balasku tersenyum. Jung Kook pun menghampiriku dan terus menatapku.

  “Eun Mi dalam keadaan tidak baik.”
“Tidak.. Aku baik-baik saja. Huh… Ayolah kita duduk disana.”
“Eun Mi tidak ingin mengganti piama dulu? Lihat piama Eun Mi kotor sekali.”
“Ah sudah tidak ada waktu lagi!”

  Balasku tersenyum dan menghapus air mataku, dengan gagah aku berjalan menuju rumput yang Jung Kook tunjukkan padaku barusan.
Apa yang bisa kami lakukan dengan sisa waktu 35 Menit? Aku seolah ingin memeluk waktu ini, Menghentikan waktu ini untuk tidak berlalu bersamanya yang memang tak bisa bersamaku. Tuhan… Aku percaya takhayulmu. Aku percaya keajaibanmu itu ada. Aku percaya segalanya.

[Kediaman Kim Taehyung]

  “Iya Tuan Taehyung, Nona Kang tadi pergi meninggalkan sekolah dan kembali tidak lama dengan keadaan yang berantakan bahkan tangannya terluka parah, Bajunya kotor, Rambutnya berantakan, Dia menangis sendirian, Dia terus menunduk dan tersenyum seolah sedang bersama seseorang.”

  Jelas Satpam Sekolah yang bersembunyi. Taehyung pun langsung menutup panggilan dari Satpam itu dan menelepon seseorang.

  “Kau sudah tidur Hyung? Kurasa kita harus menyusul Eun Mi sekarang juga.”

  Ujar Taehyung dalam telepon dengan kecemasan yang terpampang jelas di raut wajahnya.

[Halaman Belakang Sekolah | 11.55pm]

  Dengan waktu yang tersisa aku hanya mampu memandangi detik jarum jam yang terus berputar di jam tanganku. Air mata ini menetes kembali tepat di atas kaca jam tanganku.

  “5 Menit lagihh..”

  Isak tangisku kembali tak terbendung, Jantungku teramat sakit terasa, seluruh tubuhku lemas dan panas, Hatika perih seolah teriris pisau yang tajam.

  “Lihat di atas langit ada banyak sekali bintang, Sepertinya besok tidak akan hujan.”

  Ujar Jung Kook yang duduk memeluk kedua lututnya seraya menatap Eun Mi yang sedang tertunduk tersedu-sedu.

  “Eun Mi? Hampir 20 menit terakhir kau habiskan waktumu menatap jam tangan itu, Tidakkah kau ingin menatap wajahku? Apa kau marah? Apa kau takut?”
“Aku hanya sedang berusaha menghentikan waktu dengan caraku sendiri. Biasanya ketika kita sedang menunggu sesuatu dan kita memperhatikan jam berulang kali, Waktu akan terasa lama berlalu. Aku sedang melakukannya sekarang.”
“Mungkin waktu terasa sulit berlalu untukmu, Tapi lihatlah sekarang? Apa kau akan menyia-nyiakan sisa waktu yang sedikit ini hanya untuk memandangi jarum jam yang ada di tanganmu itu hah!!!!”

  Bentak Jung Kook terdengar dengan tangisan yang menyakitkan hatiku. Aku menatapnya, aku menangis bersamanya sekarang.

  “BERHENTI MENANGIS! WAKTU KITA TAK BANYAK! BERBARINGLAH DI SAMPINGKU SEKARANG! DAN HITUNGLAH BINTANG BERSAMAKU!”

  Perintah Jung Kook sangat marah, Wajahnya jelas dan semakin samar, kembali jelas dan kembali samar.

  “Hah.. Jung Kookkhhh… Aaahh..”
“AKU BILANG DIAM!”

  Tegasnya lagi seraya berbaring di rerumputan, Aku pun ikut berbarng di sampingnya, Aku menatapnya dengan air mata yang mengalir semakin deras, Aku pukul kembali dada ini. Dia menatap ke arah langit dan menunjuk salah satu bintang yang tak banyak terlihat.

  “Satu Bintang… Dua Bintanghh.. Coba Eun Mi lanjutkan hitung bintang yang kau lihat.”

  Pintanya tanpa menatapku, Aku pun langsung merebahkan posisi tidurku dan menunjuk bintang selanjutnya.

  “Tigaah… Bintaaangghh hah..”
“Empat Bintang..”
“Lim.. Limaahh Bintaaangh..”

  Ucapku tak mampu menahan tangis, Lalu aku merasakan angin berhembus dengan dinginnya. Segera aku menoleh ke sampingku dan langsung duduk dengan mata bulat sempurna.

  “JUNG KOOK!!!”

  Teriakku sangat hancur setelah menyadari dia tak ada di sampingku.

  “Aku disini Eun Mi.”

  Ucapnya langsung meluluhkan hatiku, dia berdiri tepat di tengah lapangan olah raga. dia jauh sekali bagiku.

  “Kenapah.. Kenapah kau disana?”
“Mmm.. Entahlah.. Eun Mi disana saja ya? Disini rumputnya basah.”

  Ucapnya dengan air mata berkaca-kaca.

  “Kalau begitu kau kemari!”
“Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Maafkan aku.”

  Ujarnya langsung tertunduk.

  Kang Eun Mi pun segera berdiri dan berjalan ke tengah lapangan mengikuti Jung Kook.

  “Eun Mi? Menjauhlah, Disini becek.”

  Ujarnya tak ku hiraukan, Aku pun duduk di tengah lapangan yang tergenangi air kotor, Aku segera kembali merebahkan tubuhku dan tersenyum.

  “Ini bukan masalah, Ayo lanjutkan menghitung bintangnya, Sampai mana tadi?”

  Ucap Eun Mi tersenyum dan menatap kembali langit malam, Jung Kook pun segera merebahkan tubuhnya di samping sahabatnya itu.

  “Enam Bintang, Ayo lanjutkan.”

  Ujarnya terdengar.

  “Tujuh Bintaang hah… euuhhh.. Giliranmu Jung Kook.”
“Saranghae….”

  Aku kembali menangis tanpa menoleh ke arah samping kananku. Angin langsung terasa berhembus kembali sekarang. Aku tak berani menoleh ke arah dimana dia sedang berbaring di sampingku, Aku hanya diam dan perlahan memejamkan mataku. Angin semakin terasa ribut saat ini, suara daun-daun bergesekan semakin membuat diriku gentar.

  Dia Telah Pergi…

  “Hah…. Aaaaarrrgggghhhh! Tidak boleh! Jangaaaaaaaaannnnnhhh! Aku mohon jangan lakukan ini padakuuuhhh! AAAAHHHH JEON JUNG KOOK!!!! Kembalilaaaahhh!”

  Teriakku dengan masih terbaring di tengah lapangan, Tak perduli seluruh tubuhku kotor dan basah. Aku hanya menangis dengan menjambak rambut dan memukuli dadaku sekuat-kuatnya.

  “KANG EUN MI?!!”

  Kim Seok Jin, Kim Taehyung juga Park Jimin pun datang berlarian menghampiri Eun Mi.

  “Aaaaaakkkkk, Kembalikaaan diaaa! Ini salahkuuuuuhhh! Aaahhhhh hahhhh…”

  Teriak Eun Mi semakin tak terkendali malam itu, Taehyung langsung membangunkan Eun Mi dan memeluknya, Eun Mi mengamuk dan memberontak.

  “Dia tidak gila kan? Selama satu minggu penuh dia berdiam diri di asrama dan beraktivitas seolah ada Jung Kook menemaninya.”

  Ujar Jimin sangat khawatir menyaksikan Kang Eun Mi yang sangat hancur.

  Ke’esokan harinya…

  Aku membuka mataku perlahan, Semua putih yang ku lihat, Tubuhku terasa ngilu dan remuk, Tenggorokan ku sakit, mataku terasa perih juga panas.

  “Sshh Aw…”

  Aku meringis kesakitan setelah tangan kananku merasakan sakit.

  “Infusannya lepas, Aku akan hubungi suster.”

  Ujar Ho Seok segera keluar dari ruangan dimana Eun Mi tengah di rawat.

  “Sayangku? Kau sudah siuman?”

  Ujar Ibuku, Aku pun kembali merasakan sakit di hatiku, Aku menatap ke arah sekelilingku, Ada Taehyung, Starla, Jin Oppa juga Nam Joon Sunbae-nim disini.

  “Dimana Jung Kook?”
“Miss Right, Seharusnya yang kau pertanyakan itu ‘Dimana aku?’ bukan ‘Dimana Jung Kook.'”

  “Taehyung!”

  Ucap Nam Joon melotot.

  “Maaf.”

  Balas Taehyung menyesal.

  “Eun Mi? Kau ingat aku kan?”
“Starla?”
“Mmm.. Semalam kau tak sadarkan diri, Kami disini sangat cemas setelah membiarkanmu 1 Minggu penuh meninggalkan Seoul. Apa kau pergi ke Gwangju?”
“Ah.. tidak. aku ada di asrama bersama Jung Kook selama ini maafkan aku.”

  Jelas Eun Mi, Seketika membuat Nyonya Kang menangis dan meninggalkan kamar rawat Eun Mi.

  “Ibu akan menunggu diluar bersama Ayah juga temanmu yang lain.”
“Temanku yang lain? Kenapa ibuku menangis? Dimana Jung Kook? Aku perlu bicara dengannya.”
“Jimin dan Ho Seok Sunbae ada disini, juga… Min Yoon Gi Sunbae. Jung Kook telah meninggal 1 Bulan sebelum kau kembali ke Seoul Eun Mi, Sadarlah, Tolong terima kenyataan ini.”

  Jelas Starla perlahan, Aku pun kembali menarik nafasku dan memejamkan kedua mataku. Aku kembali menangis dan menangis.

  “Bagaimana itu bisa terjadi? Apa ada yang mengganggunya?”

  Tanyaku dengan sangat sakit.

  “Tidak Eun Mi, Jung Kook meninggal karena Demam Tinggi yang di akibatkan cacar airnya, Dia terkena komplikasi juga.”

  Jelas Nam Joon Sunbae.

  “Padahal satu hari sebelumnya kami sempat bertemu, Bahkan aku dan Starla ikut menyisihkan uang saku kami pada celengannya, Dia begitu menginginkan perjalanan kalian untuk pergi ke Gwangju.”

  Tambah Taehyung. Aku pun tersenyum dan menggigit bibir bawahku.

  “Permisi..”

  Suara itu sontak membuat perhatian kami tertuju pada pintu kamar, Min Yoon Gi, Dia menatapku penuh dengan rasa kasihan di ambang pintu sana.

  “Kami akan tinggalkan kalian untuk mengobrol.”

  Ujar Starla seraya menarik tangan Taehyung juga Nam Joon Sunbae.

  “Jin Sunbae?!”

  Ucap Starla.

  “Aku tidak akan meninggalkan Eun Mi, Kalian keluar saja.”

  Balas Seok Jin menatap sinis ke arah Yoon Gi, Yoon Gi pun tersenyum dan menghampiri Eun Mi.

  Untuk pertama kalinya Min Yoon Gi berjalan mendekatiku, Aku segera duduk menatapnya tajam lalu Ia memelukku dengan erat dan berbisik…

  “Maafkan aku telah menyakitimu hingga sedalam ini.”

  Ucapnya terkekeh di telingaku.

  Eun Mi pun hanya diam dan menatap Yoon Gi tajam semakin tajam setelah dilepas pelukan hangatnya itu. Yoon Gi pun membalas tatapan Seok Jin dan segera meninggalkan kamar rawat Eun Mi.

  Tangan ini terkepal seketika, meremas selimut yang menutupi setengah tubuhku setelah melihatnya berlalu.

  “Kau tidak apa-apa?”

  Tanya Seok Jin Oppa terdengar.

  “Dialah pelakunya!”
“Apa? Kau bicara apa Eun Mi?”

  Tanya Jin terkejut, Lalu Taehyung pun kembali masuk ke dalam kamar Eun Mi.

  “Min Yoon Gi lah yang membunuh Jeon Jung Kook!”

  Tegas Eun Mi membuat Taehyung saling menatap dengan Seok Jin dengan perasaan tak mampu di duga.

  “O.. Miss Right, Kau pasti masih merasa lelah, Ayo sebaiknya kembalilah tidur.”
“Min Yoon Gi Pembunuh, Dia Pembunuh!”

  Tegas Eun Mi dengan mata yang memerah dan tak luput dari pandangan dimana Yoon Gi Sudah Berlalu. Emosi dan Dendamnya begitu terlihat jelas mengarah pada Min Yoon Gi saudara tirinya.

1 Comment on 24/7=Heaven : I’ll Protect You ( Chapter – 20 )

  1. Andwe…kok gini sih…!!!
    Huweee…!!! Emng bener yoongi ya ???
    Masa beneran meninggal sih…
    Sumvah nangis…!!!
    Ayo…NEXT thor…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: