HEADLINE NEWS

Warga Dayak Gusar,……” Patung Burung Enggang di Rusak “

pikiran nasional

PIKIRAN NASIONAL KUKAR — Warga adat dayak gusar,dengan adanya pengrusakan patung burung enggang serta patung adat suku dayak modang dan suku dayak kenyah oleho knum yang tidak bertanggungjawab, tepatnya di lokasi jalan houling milik PT. Indonesia Pratama kilometer 55-56 sungai petung, desa Long Beleh Modang Kecamatan Kembang Janggut.

 Awalnya patung tersebut di pasang oleh salah seorang kepala suku adat dayak modang Sulaimantegun (Amai Tegun)beserta sesepuh adat dayak,bebera patahun silam dan di tandai dengan ritual menanam kepala babi, dalam pelaksananya upacara sacral tersebut, di saksikan oleh beberapa pihak keluarga serta sesepuh adat dari suku modang long mahli desa long beleh modang kecamatan kembang janggut dan kenyah dari desa Tukung Ritan selaku perwakilan suku kenyah kecamatantabang.

Makna patung merupakan symbol leluhur suku modang, yang awalnya membuka lahan di wilayah tersebut.Adapun makna lain sebagai symbol kedamaian,dimana di antara beberapa suku dayak hidup berdampingan dengan damai dan aman dikampung yang di namailong lokletung.

 pikiran nasionalSementara menurut keterangan saksi mata warga sekitar, pada tanggal 24/12/16 patung tersebut di duga telah di rusak oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, dengan alasan patung tersebut akan dipindahkan dari tempat asalnya. Hal inilah yang memicu kemarahan serta kegusaran warga dayak sekitar yakni dua Kecamatan Kembang janggut dan Kecamatan Tabang, yang tidak terima dengan adanya tindakanoknum-oknum,di duga tanpa lebih dulu melakukan koordinasi dan melibatkan warga sekitar yang bermukim. Sementara mengutip salah satu keterangan dari warga narasumber “bahwa patung tersebut bernilai sacral dan wajib kita jaga kelestarianya, karena patung yang dirusak itu, merupakan symbol adat istiadat leluhur kami, dan pada waktu di pasangnya telah di lakukan upacara ritual adat,bukanya malah di rusak dan cabut begitu saja. Ini samahalnya dengan pembunuhan hak-hak adat istiadat kami di atas tanah bumi leluhur kami sendiri”setelah tim kami melakukan penelusuran serta verifikasi kelapangan bersama beberapa warga sekitar11/01/17 yang juga melibatkan beberapa LSM lokal. Menurut penuturan salah satu perwakilan dari LSM/Ormas Ketua PDKT Kecamatan Tabang (Persekutuan Dayak Kalimantan Timur) Sdr.Lunjuin Ibau melalui keterangnya kepada media Pinal News.com “Telah kami dapati lubang bekas patung tersebut di tanam, di antaranya ada patung burung enggang beserta plang nama kampung yang sudah tidak berada di tempat asalnya dan patung dari suku modang dan kenyah yang di telah rusak, sementara kami masih dalam proses mencari, mengusut siapa-siapa saja oknum yang terlibat dan melakukan pelecehan symbol atau lambang adat kita dayak serta dugaan tindak pengrusakan patung-patung tersebut, akan kami tuntut tanggung jawabnya baik secara adat maupun secara hukum, karena makna yang terkandung dalam patung tersebut begitu dalam artinya bagi kami selaku orang dayak”,demikian paparnya.

pikiran-nasional

Beberapa warga yang hadir pada saat penelusuran kami,meminta kepada tim serta beberapa aktivis LSM yang hadir turut melakukan verifikasi data lapangan“agar masalah tersebut di usut hingga tuntas karena perbuatan tersebut bersifat merugikan dan melecehkan adat istiadat suku kami dayak,karena patung tersebut adalah symbol atau lambang kebesaran adat dayak keseluruhan yang mendiami bumi borneo yakni burung enggang”. Pungkas salah satu warga, Sementara secara bersamaan di lokasi pada waktu pengambilan data di hadiri oleh (Ketum) Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Lembaga Putra Bangsa Peduli Lingkungan Hidup (LSM LPB-PLH) Lendi Mursalin ZF yang juga hadir mewakili Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur (DADKT) “Tentunya hal ini bukan hanya memicu ketersinggungan dari suku dayak modang ataupun suku kenyah saja.

pikiran nasionalDi ketahui bersama symbol burung enggang adalah lambang dari warga dayak keseluruhan di manapun mereka berada” ujarnya di hadapan warga sekitar kepada media ini. Sementara menanggapi tindakan dugaan pengrusakan serta pencabutan patung yang dinilai sepihak  oleh Ketua Umum Lembaga Investigasi Tindak Pidana Korupsi (Ketum LPI-Tipikor) Ishak Budul,Spd,Mpdyang juga turut mewakili Putra Dayak Iban “seharusnya terlebih dahulu di lakukan Koordinasi dan membentuk Tim mengumpulkan serta melibatkan beberapa pihak terkait yang memasang, sebelum di lakukan pencabutan agar tidak terjadi salah duga dan salah paham” demikian paparnya, Adapunisumengenaidugaanpengrusakansertapencabutan, menurut saksi mata warga setempat,“pada waktu kejadian di lakukan oleh beberapa warga yang tidak kami kenal sebelumnya, yang datang beramai-ramai dengan kendaraan truck serta beberapa kendaraan unit mobil yang berlabel perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di wilayah sekitar kami,yang juga sehari-harinya menggunakan akses jalan houling untuk mengangkut batu bara hasil tanah bumi di sini”. Kemudian lanjut keterangan dari narasumber kami lainya,tindakan ini di duga “Cuma akal-akalan perusahaan tambang itu, memanfaatkan beberapa warga yang tidak paham akan pola adat istiadat serta latar belakang keberdaan kami di sini. Mereka datang lalu melakukan pengrusakan di wilayah kami dan mencabut patung-patung yang di tanam oleh moyang leluhur kami, tidak puaskah mereka menjarah tanah kami,dalam memperluas wilayah konsesi mereka”  demikian ujar warga setempat. (Tim)

Biro Kaltim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: