HEADLINE NEWS

Putera Moi “Thedia Malibela, ST” Jabat PPK 04 Satker PJN Wilayah II Sorong 

Sorong – Saat ini jabatan pejabat pembuat komitmen (PPK) 04 di Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Papua Barat (Sorong) resmi dijabat putra asli Papua asal Suku Moi. Tentunya hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Suku Moi.

Sosok putra Moi ini adalah Thedia Malibela, ST. Ia resmi menjabat PPK 04 setelah dilantik beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Senin 22 Januari 2018. Untuk mengenal lebih jauh sosok ayah satu anak ini, Awak Media diberikesempatan untuk menemui Ata (sapaan akrab untuk laki-laki asal Suku Moi, red) diruang kerjanya, Selasa (23/01/18).

Mengawali kisahnya, Ata Thedia mengaku usai lulus dari STM Jayapura pada Tahun 1990, ia sempat melanjutkan kuliah di luar Papua, tepatnya di Bandung. Namun karena saat itu orangtuanya tidak mampu membiayainya membuat ia harus kembali ke Jayapura.

Tidak sempat menyelesaikan kuliah di Bandung, tidak membuat alumni SMP Negeri 5 Kota Sorong ini patah semangat. Sekembalinya ke Jayapura, ia kemudian bekerja di jasa konsultan milik Barnabas Suebu (Gubernur Irian Jaya saat itu) sambil kuliah. Bekerja di konsultan membuat ia banyak memperoleh ilmu dan sering berkunjung ke beberapa daerah di Papua seperti Wamena dan Biak.

Di tahun 1995, ia kemudian masuk sebagai honorer di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua dan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan di Laboratorium. “Saat saya ditempatkan di laboratorium disitu baru saya tahu tentang banyak hal seperti kualitas beton dan aspal,”kata Thedia Malibela.

Sekitar tahun 2003, rekan dan seniornya di Sorong menyarankan ia untuk kembali bertugas ke Sorong dengan salah satu alasan bahwa saat itu Bupati Sorong sudah dijabat orang Moi. Namun, saat bertugas di Dinas PU Kabupaten Sorong, ia hanya seperti penonton di negeri sendiri.

“Saat ini banyak teman-teman katakan kenapa saya orang Moi yang memiliki kemampuan tidak dipake. Disini saya mau kasih tahu ke bupati dan pejabat orang Moi bahwa orang yang ahli di teknik sipil dari suku Moi sudah ada,”lugas Thedia.

Hampir 10 tahun di PU Kabupaten Sorong, ia kemudian bergeser ke Kabupaten Tambrauw saat dimekarkan. Ia ikut Menase Paa yang menjabat sebagai penjabat bupati kabupaten pemekaran tersebut. Lagi-lagi, di kabupaten itu, Thedia hanya sebagai penonton.
Kondisi itu tidak membuatnya patah semangat untuk berkarya. Kemudian saat pemekaran balai di Papua Barat pada tahun 2015, ia pun mengajukan permohonan pindah ke Kementrian PU.

Selama kurun waktu 2015-2016, Thedia harus bolak balik Jakarta-Sorong guna mengurus berkas-berkas kepindahannya ke Kementrian PUPR

“Waktu itu tidak ada bantuan apa pun dari pemerintah daerah atau saudara-saudara, saya gunakan biaya sendiri bolak balik Jakarta Sorong dan rela meninggalkan istri dan anak. Orang di Jakarta lihat saya adalah orang yang punya Tanah Moi dan memiliki kemampuan yang bisa digunakan di Kementrian PUPR,”ujar Thedia.

Untuk bisa lolos ke Kementrian PUPR, kata Thedia, harus memiliki sertifikasi pengalaman barang dan jasa serta pejabat inti satuan kerja. Ia juga turut dibantu Staf Khusus Presiden, Lenis Kogoya.”Lewat Pak Lenis Kogoya keluhan orang Papua bisa disampaikan, pintu terbuka, saya datang konsultasi dan juga ada dorongan ke daerah,”lanjut Thedia.

Upaya Thedia Malibela masih saja ada kendala terkait surat menyurat di daerah. Namun dengan konsultasi dengan Bupati dan Sekda Tambrauw, akhirnya ia diberikan kemudian.

“Nah Cuma sedikit di teman-teman di kepegawaian, mereka menahan saya punya SK itu, sampai Pak Sroyer (Penjabat Bupati Tambrauw saat itu) katakan kenapa saya orang Papua anak Moi yang harus didorong ke kementrian harus diperhambat, saya kemudian kembali ke Jakarta kebetulan beliau ada di Jakarta, nah di situ proses administrasi berjalan dan di situ semua selesai,”ungkapnya.
“Puji Tuhan SK pertama di kementerian ditempatkan di Jakarta, di situ saya ketemu lagi ke Dirjen Bagian Administrasi dan Tata Usaha, mereka katakan tunggu lagi satu minggu, tapi saya sudah konsultasi dengan Kepala Balai Pak Tulak, beliau sarankan untuk melengkapi surat-surat. Jadi kami ada 4 orang yang pindah, 2 dari Sorong Selatan, 1 dari Kota Sorong dan saya dari Tambrauw,”lanjutnya.

Upaya Thedia akhirnya membuahkan hasil. Pada Oktober 2017 lalu SK-nya diterbitkan dan ditempatkan di Balai XVIII (17). Selanjutnya ia bertemua kepala balai dan diperbantukan di Fakfak karena memiliki keahlian di laboratorium.
Sebelum dilantik di Sorong menjadi PPK, Thedia telah memperoleh informasi tersebut lewat pesan whats app (WA)-nya.

“3 bulan saya di fakfak itu saya harus kembali lagi ke Sorong, ini sesuatu yang luar biasa, orang boleh komplein itu Pak Malibela baru masuk di kementrian kok bisa naik PPK, nah ini sesuatu yang luar biasa, saya sebagai anak Moi dan orang Moi harus bersyukur,”seru Thedia.

Thedia mengaku sangat bersyukur kepada Tuhan dan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada kepala balai atas kepercayaan yang diberikan. Ia menegaskan sama sekali tidak melihat paket pekerjaan yang bernilai besar tapi harus benar-benar bekerja untuk membangun tanah Moi agar menjadi tuan di negeri sendiri.

Thedia menegaskan siap bekerja membantu pemerintah dan balai dalam hal teknis maupun non teknis. Khususnya memberikan pencerahan kepada masyarakat Moi yang masih sering melakukan pemalangan hingga menyebabkan pembangunan jalan nasional menjadi terhambat. Ia juga berharap Bupati Sorong Dr Jhony Kamuru SH M.Si yang merupakan seniornya saat kuliah di Jayapura itu dapat melihat sosok dirinya yang juga merupakan putra asli Suku Moi.

“Harapan saya ke depan dapat terus bekerja maksimal hingga dapat dipercayakan menjadi kepala balai, dengan menambah ilmu pengetahuan. Yang penting saya ingin membuat yang terbaik untuk Kementrian PU dan Tanah Moi,”tandas ayah dari Marco Malibela.

Keberhasilan Thedia Malibela saat ini tidak terlepas dari dukungan serta doa sang istri yang merupakan seorang pendeta. Suami dari Ibu Pendeta Ronsumbre ini mengaku pergemuluan panjang yang ia lalui merupakan hasil campur tangan Tuhan. Pria yang lahir di Distrik Seget pada tahun 1970 dan anak dari sosok seorang Penginjil ini juga mengaku akan terus menjalin koordinasi yang baik dengan para insan pers di Sorong Raya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: